Gempa Laut Tanimbar Memunculkan Lumpur, Bukan Pulau Baru

Pulau di lokasi munculnya lumpur di selatan Pulau Kabawa. Gambar ini disandingkan dengan Google Map tahun 2019, serta hasil drone tim Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. GAMBAR: PVMBG/BADAN GEOLOGI

Darilaut – Gempa di Laut Banda mengguncang Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Gempa bumi magnitudo (M)7,5 pada 10 Januari 2023, memunculkan lumpur dan bukan dua pulau baru.

Pengamatan fisik, tidak terdapat kemunculan dua pulau baru tersebut. Akan tetap lumpur yang sebenarnya sudah ada sebelum gempa bumi Tanimbar.

Hasil ini dilaporkan Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, setelah melakukan pemeriksaan lapangan.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, berdasarkan pengamatan fisik di lapangan kedua pulau tersebut sebenarnya sudah ada sebelum kejadian gempa bumi Tanimbar. Hal ini dicirikan melalui fragmen batuan di pulau tersebut.

Fragmen berupa batu gamping moluska sebagian sudah berlumut dan mengalami pelapukan yang menandakan batuan sudah ada dalam waktu yang cukup lama, kata Pusat Vulkanologi.

Asosiasi batuan yang terdapat di dalam pulau tersebut mempunyai kesamaan ciri dengan batuan yang berada di pulau sekitarnya yang termasuk dalam Formasi Molu (pada Peta Geologi, PPPG, 2013).

Sehingga kemungkinan kedua pulau ini merupakan bagian dari dari lajur zona runtuhan yang terangkat di bagian barat Pulau Yamdena yang diduga termasuk dalam Formasi Molu yang berumur Tersier.

“Kemunculan lumpur pada kedua pulau ini sudah dimulai sebelum terjadinya Gempa bumi Tanimbar,” demikian laporan Pusat Vulkanologi.

Hal ini sudah terlihat pada Google map yang dikeluarkan sejak tahun 2019. Namun kemungkinan semburan lumpur ini kembali keluar pascagempa bumi Tanimbar, karena material yang belum terkompaksi mengalami tekanan dan tersembur keluar.

Menurut Pusat Vulkanologi jika diamati dari foto Google map dan hasil drone tim terlihat adanya perubahan dimensi lumpur pada keduanya. Adapun untuk keakuratan sumber lumpur harus diteliti lebih lanjut dengan memeriksa komposisi mineral yang ada pada lumpur dan korelasi dengan batuan di sekitarnya.

Sebelum tim melakukan survei lapangan, terdapat informasi kemunculan pulau baru atau keluarnya lumpur di daerah Ritabel dan selatan Pulau Kabawa.

Tim kemudian meninjau ke lokasi pulau yang dimaksud yaitu pulau yang berada selatan Pulau Kabawa.

Di lokasi tersebut tim melakukan plotting, serta deskripsi pulau dan asosiasi batuan di sekitarnya. Selanjutnya, mengambil sampel batuan dan lumpur, dan melakukan dokumentasi.

Hasil peninjauan pulau pertama, berupa hamparan batu pasir kasar warna abu-abu kehitaman. Di atasnya tersebar batuan yang berukuran kerikil-bongkah dengan bentuk menyudut sampai menyudut tanggung.

Secara makroskopis di antaranya berupa rijang, batu gamping napalan, batu gamping moluska, batu gamping kristalin, lempung karbonan, kuarsit, slate, batuan metamorf yang mengandung mineral sulfida seperti pirit dan kalkopirit, dan batu gamping silisifikasi.

Adapun singkapan lumpur berada di sisi bagian barat pulau dengan kondisi yang masih lunak/belum kompak sehingga apabila diinjak walaupun dengan sepatu boat akan ambles.

Tinggi lumpur sekitar 3 meter, dengan bentuk dome, dan di atas lumpur terdapat bongkah dan kerakal batu yang sama dengan material yang tersebar di sekitarnya.

Dimensi Lumpur dari hasil pemotretan drone yaitu dengan panjang 27,2 m dan lebar 16,6 m.

Karakteristik lumpur berwarna abu-abu, berbutir sangat halus, lunak, daya kohesi kuat, lengket, tidak berbau sulfur, dan tidak mengandung material kasar.

Pulau kedua, dimensi lebih besar namun kemunculan lumpur lebih kecil dari pulau pertama dengan ketinggian yang lebih rendah.

Adapun karakteristik lumpur sama dengan lumpur pada pulau pertama, dengan dimensi panjang 47,5 dan lebar 17,8 m.

Pulau disusun oleh batupasir kasar dan terdapat di atasnya pecahan batuan berukuran kerikil sampai bongkah dengan bentuk menyudut tanggung sampai membundar tanggung, kerakal dominan berbentuk pipih.

Bila dibandingkan dengan pulau pertama, fragmen yang tersebar di pulau kedua berukuran lebih kecil. Namun, jenis batuan hampir sama dengan pulau pertama.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, Pusat Vulkanologi merekomendasikan kemunculan lumpur pada pulau yang sebenarnya sudah terjadi sebelum kejadian gempa bumi Tanimbar. Ini fenomena yang khas pada zona aktif tektonik.

Selama pertumbuhan lumpur tidak berlebihan, tidak akan membahayakan penduduk, kata Pusat Vulkanologi.

Exit mobile version