Gempa Sangat Kuat Dalam Sehari di NTT, Sumut dan Sulteng Tidak Saling Berkaitan

GAMBAR: BMKG

Darilaut – Dalam sehari, pada Sabtu (15/8) terjadi tiga peristiwa gempa bumi sangat kuat di Indonesia. Gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terjadi Sabtu pagi, kemudian Sumatra Utara (Sumut) sore dan Sulawesi Tengah (Sulteng) –tepatnya di Teluk Tomini- tengah malam.

Edukator Mitigasi Bencana, Dr. Daryono, melalui akun X (@daryono_eq_talk) menjelaskan bahwa kejadian ketiga gempa besar ini dalam satu hari yang sama murni merupakan kebetulan waktu (temporal coincidence) dari proses siklus seismik yang telah berjalan puluhan hingga ratusan tahun di masing-masing segmen tektonik.

Rangkaian tiga gempa bumi signifikan yang melanda kawasan Nusantara pada 15 Agustus 2026 terjadi dalam kurun waktu yang relatif sangat singkat, yakni hanya 18 jam 26 menit 57 detik.

Diawali oleh guncangan kuat M 7,7 di Flores NTT pada pukul 04.58.21 WIB atau 05.58.21 WIB, rentetan aktivitas seismik ini disusul oleh gempa M 6,4 di Sumatra Utara pada 17:54:51 WIB, dan ditutup oleh gempa M 5,9 di Sulteng pada 23.25.18 WIB atau 00.25.18 Wita.

“Kedekatan temporal ini kerap memicu spekulasi publik mengenai kemungkinan efek domino antar-gempa, namun dari kacamata fisika bumi, fenomena ini dikenal sebagai earthquake clustering,” kata Daryono yang juga anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), “sebuah kebetulan statistik di mana beberapa kejadian gempa independen terjadi berdekatan dlm kurun waktu tertentu tanpa adanya ikatan kausalitas langsung.”

Secara sederhana, menurut Daryono, earthquake clustering adalah fenomena ketika beberapa gempa terjadi berdekatan dalam kurun waktu atau wilayah tertentu, sehingga secara kasat mata terlihat seperti sebuah “kelompok” atau gelombang kejadian.

Namun, dari sudut pandang seismologi modern, pemusatan kejadian ini sebagian besar merupakan implikasi dari proses fisik yang spesifik.

Daryono mengatakan secara statistik acak, gempa independen yang berasal dari segmen tektonik berbeda dapat melepaskan energi dalam jendela waktu yang berdekatan murni karena kebetulan. Setiap sumber gempa memiliki siklus pengumpulan energi (stress accumulation) dan masa pelepasan energi (recurrence interval) masing-masing.

Ketika dua atau lebih segmen yang berjauhan kebetulan mencapai titik jenuh (failure threshold) pada waktu yang hampir bersamaan, kejadian gempa akan tampak seperti mengelompok, padahal tidak ada keterikatan fisik atau mekanisme saling picu di antara mereka.

Dalam konteks episenter yang saling berjauhan hingga ratusan atau puluhan ribu kilometer, earthquake clustering yang terlihat di media atau katalog gempa hampir dipastikan merupakan kebetulan temporal, karena medan tegangan statik dari satu gempa tidak mampu menjangkau zona tektonik independen lainnya.

Secara tektonik dan mekanika batuan, ketiga gempa (Flores, Sumut, dan Sulteng) ini “berakar dari sistem penunjaman dan struktur yang sepenuhnya terpisah, serta beroperasi dengan mekanisme deformasi yang berbeda,” tulis Daryono.

Gempa Flores (M 7,7) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 km yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif naik Flores (Flores back-arc thrust). Sebaliknya, gempa Sumatra Utara (M6,7; kedalaman 172,5 km) dan gempa Parigi Moutong (M5,7; kedalaman 72,5 km) keduanya dipicu oleh intraslab deformation, yakni Deformasi internal pada slab lempeng tektonik yang menunjam ke dalam lapisan astenosfer, bukan akibat pergeseran patahan di kerak dangkal.

Dalam seismologi, kata Daryono, interaksi antar-gempa umumnya ditinjau melalui transfer tegangan (stress transfer). Konsep transfer tegangan statik (static stress trigger) dipastikan tidak bekerja pada kasus ini karena radius perubahan medan Coulomb failure stress akibat gempa Flores sangat terbatas dan menurun drastis seiring bertambahnya jarak, sehingga tidak mampu menjangkau zona Sumatra Utara maupun Sulawesi Tengah yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer.

Sementara itu, hipotesis transfer tegangan dinamik (dynamic stress trigger) melalui rambatan gelombang seismik permukaan (surface waves) memang diakui secara teoritis dapat merentang jauh, namun hingga saat ini belum ada konsensus maupun bukti empiris yang valid dalam ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa perambatan gelombang tersebut mampu memicu rupture besar pada zona subduksi terpisah secara serta-merta.

Setiap zona tektonik di Indonesia beroperasi sebagai “otoritas lokal” yang mandiri dengan rezim tektoniknya masing-masing. Masing-masing segmen sumber gempa memiliki laju akumulasi medan tegangan (stress accumulation rate) dan periode ulang (recurrence interval) yang independen.

Batuan pada segmen Flores, Sumatra Utara, dan Parigi Moutong mengumpulkan strain mekanis secara terpisah hingga mencapai ambang batas batas elastisitasnya (failure threshold), lalu melepaskan energi kinetik tersebut pada waktunya sendiri-sendiri, kata Daryono.

Exit mobile version