3. Pendidikan (2,03 persen)
Kenaikan terjadi di seluruh subkelompok pendidikan, termasuk pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Komoditas yang paling berpengaruh adalah biaya akademi/perguruan tinggi.
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mencatat inflasi 1,97 persen dengan kontribusi terbesar dari makanan siap santap seperti nasi lauk dan kue berminyak.
Kelompok Pengeluaran Penyumbang Deflasi
Beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan indeks harga dan berkontribusi menahan laju inflasi:
- Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga (-2,52 persen)
Penurunan terutama berasal dari turunnya harga sabun deterjen bubuk serta beberapa barang rumah tangga.
- Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan (-1,58 persen)
Turunnya harga telepon seluler menjadi faktor utama kelompok ini mencatat deflasi. - Rekreasi, Olahraga, dan Budaya (-0,86 persen)
Penurunan indeks terutama dipengaruhi oleh komoditas buku tulis dan makanan hewan peliharaan. - Kesehatan (-0,12 persen)
Meski penurunannya kecil, kelompok ini tetap memberikan kontribusi pada deflasi berkat turunnya harga obat-obatan.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (November 2024), inflasi Gorontalo naik cukup signifikan dari 0,27 persen menjadi 2,21 persen pada November 2025, menandakan peningkatan tekanan harga dalam satu tahun terakhir.
Sementara itu, tingkat inflasi month-to-month (m-to-m) pada November 2025 mencatat deflasi sebesar 0,24 persen, dipengaruhi penurunan harga komoditas seperti cabai rawit, beras, dan bawang merah. Meski demikian, secara year-to-date (y-to-d), inflasi masih tercatat meningkat sebesar 1,63 persen.
Rilis BPS Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa dinamika harga pada November 2025 cukup stabil dengan tekanan inflasi yang masih dalam kategori terkendali. Kenaikan harga kelompok perawatan pribadi dan komoditas pangan laut menjadi faktor dominan, sementara turunnya harga barang rumah tangga dan perangkat komunikasi membantu meredam inflasi.




