Darilaut – Gunung api Ruang dan Gunung api Awu di Sulawesi Utara saat ini telah dinaikan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Gunung Ruang berada Kabupaten Sitaro, sementara Gunung Awu di Kabupaten Sangihe.
Dalam siaran pers, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Hendra Gunawan, menjelaskan bahwa pada periode 1-15 April 2024, kegempaan yang tercatat di Gunung Ruang sebanyak 210 kali gempa Vulkanik Dalam (VTA), 3 kali gempa Tektonik Lokal, dan 163 kali gempa Tektonik Jauh.
Jumlah kegempaan terutama gempa Vulkanik Dalam yang terjadi pada periode 1-15 April menunjukkan kenaikan yang signifikan dibandingkan bulan Maret 2024. Dalam kurun waktu 12 jam, pukul 00.00 – 12.00 WITA, jumlah Gempa Vulkanik Dalam mengalami eskalasi 198 kejadian dan tercatat Gempa Tektonik Jauh 2 kali kejadian.
Hasil evaluasi, kata Hendra, kegempaan vulkanik di Gunung Ruang cenderung rendah, lebih didominasi oleh gempa tektonik, diperkirakan pengaruh dari Subduksi Sulawesi Utara dan Subduksi Ganda di Laut Maluku.
Namun aktivitas vulkanik Gunung Ruang pada periode 1-16 April 2024 terjadi eskalasi pemunculan Gempa Vulkanik Dalam (VTA) pasca Gempa Tektonik 9 April 2024 dan 14 April 2024.
Potensi bahaya Gunung Ruang yang mungkin terjadi berupa erupsi eksplosif menghasilkan awan panas, ke arah baratdaya – selatan – Tenggara, kata Hendra.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Ruang, maka tingkat aktivitas Gunung Ruang dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) terhitung mulai tanggal 16 April 2024 pukul 16.00 WITA.
Masyarakat di sekitar Gunung Ruang dan pengunjung/ wisatawan, menurut Hendra, agar tetap waspada dan tidak memasuki wilayah radius 4 km dari pusat kawah aktif Gunung Ruang.
Pemerintah Daerah, BPBD Provinsi dan Kabupaten agar senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ruang, Desa Tulusan, Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
Gunung Awu
Hasil pemantauan Deformasi Gunung Awu dengan menggunakan Tiltmeter pada periode 1 Maret 2024 – 16 April 2024 di Stasiun Kolongan dan Stasiun Puncak menunjukkan adanya inflasi (peningkatan tekanan).
Hendra mengatakan dari hasil pengamatan visual, kegempaan dan deformasi, intrusi magma di kedalaman menuju permukaan masih terekam secara instrumental. Hal ini diindikasikan dengan kemunculan kegempaan Vulkanik Dalam dan Vulkanik Dangkal.
Kemunculan Gempa-gempa Tektonik Lokal berintensitas besar dapat pula memicu peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Awu.
Selain itu, kata Hendra, perlu diwaspadai kejadian gempa-gempa dengan energi besar dan menerus yang berpotensi untuk mendobrak kubah lava dan mengakibatkan erupsi eksplosif.
Hendra mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental Gunung Awu menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas serta potensi ancaman bahayanya, maka tingkat aktivitas Gunung Awu dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga), terhitung mulai tanggal 16 April 2024 pukul 18.00 WITA.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan, masyarakat dan pengunjung/ wisatawan agar tidak memasuki dan tidak beraktivitas di dalam wilayah radius 5 km dari pusat kawah Gunung Awu.
Informasi aktivitas vulkanik Gunung Awu dapat diperoleh melalui Pos PGA Gunung Awu di Jl. Radar Kp. 116 Tahuna, Kelurahan Apengsembeka, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
BPBD Kabupaten kepulauan Sangihe senantiasa berkoordinasi dengan Pos PGA Gunung Awu dalam memantau perkembangan aktivitas Gunung Awu.
Pusat Vulkanologi akan melakukan evaluasi kembali secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.
