Hari Asteroid untuk Mendeteksi dan Melacak Objek Dekat Bumi

Asteroid dekat Bumi. FOTO: Pierre Carril/ESA/UN

Darilaut – Tanggal 30 Juni diperingati sebagai Hari Asteroid Sedunia atau International Asteroid Day. Hari Asteroid didedikasikan untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya dampak asteroid dan pertahanan planet global. Memperkuat pertahanan planet dimulai dengan mendeteksi dan melacak objek dekat Bumi sebelum menjadi ancaman.

Hari Asteroid menekankan kebutuhan kritis untuk melacak objek dekat Bumi (NEO) dan memperkuat jaringan komunikasi krisis.

Melansir UN News, Hari Asteroid juga berfungsi sebagai landasan untuk Tahun Internasional Kesadaran Asteroid dan Pertahanan Planet yang akan datang pada tahun 2029.

Kampanye global ini akan bertepatan dengan peristiwa kosmik langka: pada tanggal 13 April 2029, asteroid 99942 Apophis akan terbang lebih dekat ke Bumi dengan aman, sehingga dapat terlihat oleh miliaran orang dengan mata telanjang di bawah langit malam yang cerah.

Mengapa Hari Asteroid dirayakan? Pada tanggal 6 Desember 2016, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi resolusi A/RES/71/90 , yang menyatakan tanggal 30 Juni sebagai Hari Asteroid Sedunia.

Hari Internasional ini akan meningkatkan kesadaran publik tentang risiko dampak asteroid dan memberikan informasi tentang langkah-langkah komunikasi krisis yang akan diadopsi di seluruh dunia jika ada ancaman dampak yang masuk akal dari objek dekat Bumi.

Keputusan Majelis Umum diadopsi menyusul usulan dari Asosiasi Penjelajah Angkasa , yang disetujui oleh Komisi Penggunaan Ruang Angkasa untuk Tujuan Damai.

Komet dan Asteroid

Komet dan asteroid yang mengorbit dekat planet kita, juga dikenal sebagai objek dekat Bumi, dapat menyebabkan bencana di Bumi.

Menurut NASA yang didedikasikan untuk mempelajari objek-objek ini, lebih dari 16.000 asteroid dekat Bumi telah diidentifikasi.

Pada tanggal 30 Juni 1908, asteroid Tunguska menghantam Siberia (Federasi Rusia), menyebabkan dampak terbesar yang pernah tercatat.

Pada tanggal 15 Februari 2013, sebuah bola api raksasa (secara teknis disebut “superbolide”), yang bergerak dengan kecepatan 18,6 km per detik, memasuki atmosfer dan hancur di atas Chelyabinsk, Rusia.

Menurut NASA, asteroid tersebut berdiameter 18 meter dan beratnya 11.000 ton. Energi yang dilepaskan saat tumbukan sekitar 440 kiloton (setara dengan energi ledakan 440.000 ton TNT). Ini adalah tumbukan asteroid terbesar kedua di Bumi, setelah peristiwa Tunguska.

Kantor Urusan Luar Angkasa telah menangani objek-objek dekat Bumi dan meyakini bahwa respons internasional diperlukan untuk mengatasi ancaman ini.

Menangani masalah ini, termasuk mengidentifikasi objek-objek yang berpotensi bertabrakan dengan planet kita dan mempersiapkan langkah-langkah untuk mengurangi dampaknya, membutuhkan tindakan terkoordinasi dari komunitas internasional untuk menjaga keselamatan publik.

Exit mobile version