Hong Kong Tujuan Utama Ekspor Sirip Hiu dan Pari

Shark ray dengan nama ilmiah Rhina ancylostoma terlihat di perairan Botubarani, Gorontalo, Rabu (17/3/2021) malam. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Populasi hiu dan pari di Indonesia terus mengalami penurunan. Hingga saat ini, perdagangan hiu dan pari Indonesia terbesar di dunia, di bawahnya ada Spanyol dan India.

Tujuan utama ekspor sirip hiu dan pari adalah Hong Kong, sedangkan khusus jenis pari produk daging utamanya ke Malaysia, kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan (PRZT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andhika Prima Prasetyo, dalam rangkaian Applied Zoology Summer School #13, Sabtu (15/11).

Penangkapan menunjukkan kondisi yang fluktuatif dan terjadi penurunan dimana pada tahun 2000 penangkapan hiu menurun sedangkan pari semakin meningkat.

Andhika mengatakan hasil produk hiu dan pari sangatlah beragam, seperti sirip, daging dan tulang hiu. Adapun kulit pari diolah menjadi dompet, sarung pedang dan sepatu.

Secara umum pemanfaatan hiu dan pari adalah “zero waste” yang dimanfaatkan mulai dari fin (sirip) hingga intestine (isi perut).

Lebih jauh, Andhika menjelaskan bahwa pengelolaan dan konservasi hiu dan pari dapat didukung dengan pendekatan genetik yaitu identifikasi spesies.

“Pendekatan genetik juga dapat mendukung ketertelusuran geografis, mendukung penegakan hukum dan regulasi. Perlindungan keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman genetik, serta pengembangan laboratorium uji genetik,” ujarnya.

Menurut Andhika, genetika hiu dan pari di Indonesia yaitu biaya reagent mahal, akses mesin sequensing relatif terbatas, butuh teknik uji yang cepat dan terjangkau, volume pemeriksaan yang tinggi.

Kondisi iklim Indonesia yang humid juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan teknologi dan inovasi.

“Jika biaya dikesampingkan, saat ini teknik molekuler berkembang sangat pesat mulai dari teknologi sekuensing, mesin, reagent hingga perkembangan bioinformatika,” kata Andhika.

Adapun teknik molekuler yang berkembang untuk ketertelusuran perdagangan di antaranya barcoding konvensional, mini barcoding, PCR-RFLP.

Kemudian real-time PCR, LAMP genetic, Lab-on-chip, hingga pengembangan DNA metabarcoding untuk membantu ketertelusuran berupa Shark-dust, kata Andhika.

Andhika menyimpulkan, teknik genetika hanyalah alat pelengkap dan penting untuk mempertimbangkan keterbatasannya. Pemetaan genom dan pengembangan referensi database suatu keharusan untuk mendukungan pengembangan teknik genetik ke depannya.

Populasi hiu dan pari di Indonesia mengalami penurunan akibat penangkapan, perubahan lingkungan, kerusakan habitat, nilai ekonomi, dan kebutuhan pangan.

Hiu dan pari di Indonesia merupakan sumber protein paling terjangkau tidak hanya di pesisir juga oleh kaum urban. 

Hiu merupakan ikan bertulang rawan, ada juga ikan pari, skate, dan chimera yang masuk kelas Chondrichthyes.

Uniknya, sirip yang paling mahal bukan dari hiu, akan ”tetapi dari pari yaitu jenis pari kikir dan pari kekeh,” ujarnya.

Menurut Andhika, perbedaan skate dengan pari terdapat pada sistem reproduksinya, yaitu ikan pari melahirkan sedangkan skate ini justru bertelur. Untuk hiu hantu atau chimera adalah jenis hiu yang jarang dilihat karena habitatnya di kedalaman.

Exit mobile version