M Nuh menjelaskan ibadah haji adalah ibadah yang penuh pergerakan, sangat dinamis dalam dimensi posisi (ruang) dan waktu.
Itulah perjalanan hidup, selalu bergerak dalam dimensi ruang dan waktu, yang dalam pergerakannya tersebut berujung (kembali) kepada Allah [QS:2:156, 21:93], yang tidak hanya diungkapkan pada saat mengalami musibah, tetapi sebagai pengingat bahwa apa pun yang kita lakukan muaranya adalah ketertundukan dan kepatuhan kepada yang Maha Kuasa dengan penuh keridhaan atau dengan keterpaksaan [QS:3:83,13:15].
“Pergerakan tersebut bukan dilakukan ’sendirian’, akan tetapi setiap orang melakukannya, sehingga terjadi pergumulan dan interaksi antar jamaah. Semangat ta’awun (saling membantu-kolaborasi-sinergi) dan ego sentris seringkali berbenturan dalam prosesi haji tersebut, dan itulah fakta dan realitas kehidupan,” kata M Nuh.
M Nuh menjelaskan bahwa semangat ke-kitaan dan gotong royong yang dirintis oleh pendiri Bangsa dan Negara Indonesia, bukanlah sesuatu yang didapat secara serta merta (given), tetapi melalui proses yang panjang, kompleks dan berat.
Berangkat dari titik persamaan, dikembangkan menjadi garis, bidang dan akhirnya menjadi ruang persamaan. Proses lahirnya NKRI, Pancasila dan UUD 1945 tidak lain adalah hasil dari semangat persamaan dan ke-Kitaan. Bukan semangat perbedaan dan ke Akuan.





Komentar tentang post