Sebanyak 16 dari 17 produsen cokelat yang disurvei juga menyatakan siap membeli kakao dari daerah baru selama mutu dan proses produksinya terjaga.
Meski memiliki potensi besar, riset ACBI dan KEM masih menemukan persoalan mendasar pada kualitas kakao. Sebagian besar sampel masih didominasi rasa pahit dan sepat akibat proses fermentasi dan pengeringan yang belum optimal.
Di Bali, hampir separuh petani pernah mengalami penolakan produk karena mutu pascapanen yang tidak konsisten. Sementara di Yogyakarta, banyak petani belum rutin merawat kebun karena kakao masih dianggap sebagai sumber pendapatan tambahan, bukan usaha utama.
Tim Peneliti dan Dewan Pengawas ACBI, Peni Agustijanto, mengatakan tantangan utama kakao Indonesia saat ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga kualitas yang belum stabil dari hulu hingga hilir.
Padahal, Indonesia sebenarnya memiliki modal alam yang kuat untuk menghasilkan kakao premium karena keragaman wilayah dan sistem agroforestri yang mampu menciptakan karakter rasa unik bernilai tinggi di pasar premium.

“Pasar menunggu pasokan yang stabil dan bisa dipertanggungjawabkan. Beberapa tantangan yang muncul antara lain produktivitas kebun yang relatif rendah karena tanaman sudah tua,” ujar Peni.
Di sisi lain, ”para petani juga masih cukup bergantung pada pendamping karena kemandirian teknis belum sepenuhnya terbentuk.”



