“Pengembangan kakao premium tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan semangat gotong royong bioekonomi yang memperkuat seluruh rantai nilai kakao.”
Menanggapi hal ini, Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Pertanian, Normansyah Syahruddin, menyatakan pemerintah mendukung penguatan ekosistem kakao premium nasional, termasuk melalui skema pembiayaan, peremajaan kebun, dan mendorong peningkatan mutu pascapanen.
Di Kementerian Pertanian, menurut Norman, tahun ini terdapat program peremajaan kakao rakyat seluas kurang lebih 174.000 hektare, yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pasokan kakao berkualitas dari Indonesia.

BPDP juga telah berkomitmen mengalokasikan pendanaan untuk mendukung sarana dan prasarana, terutama pada tahap pascapanen dan pengolahan.
Untuk fine flavor cocoa, kualitas pascapanen menjadi sangat penting karena proses inilah yang menentukan aroma, cita rasa, dan kualitas terbaik kakao. Kami juga telah menyediakan pendanaan untuk sejumlah peralatan pendukung pascapanen, kata Norman.
Norman mengatakan upaya pemerintah telah dilakukan secara holistik melalui berbagai program lintas kementerian. Selama ini, kakao Indonesia kerap mendapat stigma sebagai kakao dengan kualitas dan aroma yang rendah, sehingga pengembangan kakao fine flavor harus terus didorong, mengingat sektor kakao memiliki potensi ekonomi sirkular yang tinggi dan saat ini Indonesia memenuhi sekitar 10% kebutuhan kakao premium dunia.



