Indonesia Selesaikan 11 Komitmen Our Ocean Conference

FOTO: DITJEN HUBLA

Jakarta – Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan 11 dari 42 komitmen untuk mendukung terwujudnya laut yang bersih, sehat dan produktif dalam pelaksanaan Our Ocean Conference (OOC).

Tahun ini OOC digelar minggu ketiga Oktober di Oslo Norwegia. Saat OOC 2019 di Oslo, Indonesia menyampaikan 3 komitmen melengkapi komitmen yang sudah selesai dan masih berjalan hingga saat ini.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) R Sjarief Widjaja mengatakan, sepanjang penyelenggaraan OOC tahun 2017 dan 2018, Indonesia mengusulkan 42 (empat puluh dua) komitmen untuk mewujudkan laut yang bersih, sehat dan produktif. 11 komitmen sudah 100 persen terlaksana dan lainnya masih berjalan.

“Untuk OOC 2019 di Oslo ini, Indonesia kembali mengusulkan 3 komitmen baru,” kata Sjarief yang juga ketua Delegasi Indonesia pada acara OOC 2019 di Oslo, Norwegia, Kamis (24/10).

Adapun komitmen yang dihasilkan dalam setiap penyelenggaraan OOC ini merupakan komitmen sukarela yang berwujud nyata dan mempunyai dampak signifikan untuk menciptakan lautan yang bersih, sehat dan produktif dimana pada OOC 2018 di Bali telah menghasilkan hampir seribu komitmen.

“Pemerintah, organisasi dan pelaku bisnis didorong untuk menyampaikan perkembangan, tindakan nyata untuk menciptakan lautan yang bersih, sehat dan produktif pada konferensi tahun ini. Komitmen yang disampaikan juga harus memiliki dampak signifikan, dapat diukur dan memiliki jangka waktu yang jelas,” ujar Sjarief.

Delegasi Indonesia yang menghadiri OOC 2019 terdiri dari perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, Sekretariat Negara, Sekretariat Kabinet, BMKG dan KBRI di Oslo untuk mengawal dan menyampaikan perkembangan komitmen dengan 6 (enam) Areas of Action.

Keenam Areas of Action tersebut adalah Marine Protected Areas and Other Area Based Management Measures, Climate Change, Sustainable Fisheries, Marine Pollution, Sustainable Blue Economy dan Maritime Security.

Berdasarkan catatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan selaku focal point untuk OOC disebutkan 11 komitmen yang telah diselesaikan 100 persen yang mencakup 6 Areas of Action diantaranya adalah Marine Protected Areas di mana komitmen Indonesia pada OOC tahun 2017 yaitu Indonesia berhasil mewujudkan 22.68 juta Ha area konservasi pada 2018 .

Selanjutnya, Indonesia menyampaikan komitmen untuk mengalokasikan anggaran sebesar 2,3 juta USD untuk meningkatkan efektivitas manajemen dari 10 Marine Protected Areas nasional dan 24 provinsi.

Komitmen Indonesia yang telah tuntas lainnya adalah pendanaan sebesar 72.000 USD pada 2019 melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional untuk mengidentifikasi area-area untuk kerapu dan budidaya rumput laut di 16 provinsi secara berkelanjutan.

Untuk perikanan berkelanjutan (sustainable fisheries), Indonesia menuntaskan komitmennya dengan mengalokasikan anggaran USD 6.754.000 guna meningkatkan produksi perikanan dengan memanfaatkan bioflok teknologi akuakultur. Penganggaran dibagi dalam 3 tahun mulai 2017-2019. Pada area ini, Indonesia juga menuntaskan komitmen untuk mengalokasikan USD 3 juta bagi keperluan fish stock assessment untuk tahun 2018-2021.

Di area sustainable blue economy, komitmen Indonesia melalui pemerintah daerah dimana pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo berkomitmen untuk pelaksanaan proyek pertanian ikan dan padi. Kegiatan ini untuk mendukung sustainable blue economy dengan menyediakan total pengembangan seluas 25 ha, terdiri dari 18 ha budidaya ikan-padi yang didanai oleh FAO dan akan terus berlanjut sampai tahun 2019 dengan tambahan 7 ha pertanian daerah.

Indonesia juga menuntaskan komitmennya untuk mengalokasikan USD 8,7 juta pada tahun 2018 untuk pengembangan Industri Rumput Laut Nasional.

3 komitmen Indonesia untuk OOC 2019 adalah Pencadangan 700.000 hektar Kawasan Konservasi Perairan pada tahun 2020 dan mengalokasikan dana sebesar USD 6,68 juta untuk membentuk Kawasan Konservasi Perairan baru dan meningkatkan efektivitas pengelolaannya.

Komitmen kedua, melaksanakan stock assessment untuk sumber daya perairan darat dengan mengalokasikan dana sebesar USD 300,000 di tahun 2020. Komitmen ketiga, memperpanjang proyek “Peningkatan Sistem Peramalan Lautan untuk Mendukung Pengurangan Risiko Bencana Maritim” pada 2019-2024 dengan USD 121 Juta USD dari anggaran nasional.

OOC tahun 2019 digelar di Oslo, Norwegia pada Selasa (23/10) hingga Jumat (25/10) yang dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg. Untuk penyelenggaraan OOC tahun 2020 akan dilaksanakan di Republik Palau.

Penyelenggaraan OOC telah dilaksanakan sebanyak 6 kali sejak tahun 2014, antaranya 2 kali di Washington DC, Cile, Malta, Indonesia dan Norwegia.

Selama enam kali diadakan, konferensi tahunan itu telah mengeluarkan 1.318 komitmen di bidang kelautan dan kemaritiman, di antaranya 31 komitmen pada 2014, 73 komitmen pada 2015, 126 komitmen pada 2016, 433 komitmen pada 2017, 287 komitmen dari konferensi OOC di Bali dan 368 komitmen dari OOC di Oslo Norwegia.

Kegiatan OOC 2019 resmi ditutup oleh Menteri Luar Negeri Norwegia, Ine Eriksen Soreide pada Kamis (24/10).*

Exit mobile version