Dalam setiap kejadian siklon tropis, termasuk Siklon Tropis Seroja (2021) dan Senyar (2025), BMKG secara intensif melakukan pemantauan, analisis, dan prediksi berbasis data observasi dan model numerik untuk mengidentifikasi potensi dampak, yang kemudian disampaikan sebagai dasar pengambilan langkah antisipatif.
Begitu pula pada peristiwa banjir besar di Kalimantan Selatan pada tahun 2021, data curah hujan ekstrem yang diperoleh dari jaringan observasi BMKG menjadi salah satu dasar penting dalam penetapan status darurat serta percepatan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
Selain itu, pada sektor penerbangan dan pelayaran, informasi prakiraan cuaca dengan berbagai skala waktu turut berperan dalam mendukung keselamatan dan kelancaran operasional transportasi, khususnya pada jalur-jalur padat seperti lintasan Jawa–Sumatra serta rute internasional.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menekankan keberhasilan perlindungan masyarakat bergantung pada respons pemangku kepentingan terhadap peringatan dini yang dikeluarkan.
BMKG tidak hanya berhenti pada pengiriman data, tetapi juga aktif menyosialisasikan potensi dampak bencana agar pemerintah daerah dapat mengambil tindakan mitigasi yang tepat secara cepat, kata Faisal.
Menyongsong masa depan, BMKG kini mentransformasi diri menjadi institusi yang lebih adaptif dengan memperkuat penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pemodelan cuaca.




