Darilaut – Sebagai Cagar Biosfer UNESCO sejak 2012, Wakatobi dikenal sebagai salah satu kawasan pusat segitiga karang dunia dengan kekayaan biodiversitas laut yang tinggi.
Kawasan tersebut memiliki ratusan spesies karang, burung, dan biota laut yang menjadi prioritas konservasi.
Dalam pengelolaannya, pemerintah daerah melibatkan masyarakat hukum adat, pengelola taman nasional, perguruan tinggi, NGO, komunitas lokal, hingga pemerintah pusat melalui pendekatan kolaboratif.
Bupati Wakatobi, Haliana, menjelaskan bagaimana Pemerintah Kabupaten Wakatobi dalam mengintegrasikan jasa ekosistem ke dalam arah pembangunan wilayah.
Menurut Haliana, visi pembangunan Wakatobi 2025–2029 menempatkan penguatan ketahanan sosial, budaya, dan ekologi sebagai bagian penting pembangunan daerah kepulauan.
“Tidak ada ego sektoral di Wakatobi. Semua pembangunan harus berjalan bersama konservasi,” ujar Haliana, dalam sesi diskusi “Penguatan Pengelolaan Cagar Biosfer Berbasis Jasa Ekosistem: Konsolidasi Nasional Pengelolaan 21 Cagar Biosfer Indonesia Menuju Era Hangzhou Strategic Action Plan 2026–2035” di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan, Kamis (21/5).
Berbagai praktik lokal juga terus dipertahankan, mulai dari perlindungan hutan adat, sistem buka-tutup penangkapan gurita, perlindungan laut berbasis adat, hingga pengelolaan mangrove berbasis komunitas.
Selain itu, Wakatobi juga mengembangkan ekonomi hijau melalui pariwisata berkelanjutan, budidaya rumput laut ramah lingkungan, serta pengembangan sport tourism berbasis konservasi.
“Kami ingin memastikan sustainability di Kabupaten Wakatobi benar-benar dilaksanakan oleh seluruh stakeholder, termasuk masyarakat hukum adat,” kata Haliana seperti dikutip dari Brin.go.id.
Direktur Eksekutif Komite Nasional Man and the Biosphere (MAB) UNESCO Indonesia sekaligus Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Virni Budi Arifanti, mengatakan, pengelolaan biosfer membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, hingga lembaga pengelola kawasan agar fungsi konservasi dan pembangunan dapat berjalan beriringan.
“Pengelolaan cagar biosfer saat ini tidak lagi bertumpu pada perlindungan kawasan semata, tetapi pada kemampuan seluruh zona biosfer untuk dikelola secara terpadu,” kata Virni.
Melalui penguatan tata kelola berbasis jasa ekosistem tersebut, BRIN mendorong cagar biosfer tidak hanya menjadi instrumen konservasi, tetapi juga ruang integrasi antara perlindungan lingkungan, pembangunan daerah, dan penguatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Wakatobi dengan luas wilayah: 1.390.000 ha adalah akronim untuk empat pulau utama, bersama dengan pulau-pulau kecil lainnya, membentuk Kepulauan Tukang Besi di ujung tenggara Sulawesi.
Melansir Islandbiosphere.org, cagar biosfer ini meliputi pulau-pulau dan wilayah laut sekitarnya. Kepulauan ini terkenal dengan keanekaragaman taman karangnya yang spektakuler.
Wakatobi memiliki keanekaragaman ekosistem yang besar dan banyak spesies lamun, terumbu karang, ikan, burung, penyu, mamalia laut, dan mangrove. Ini adalah taman nasional laut terbesar di Indonesia.
