Darilaut – Sistem irigasi pada sawah yang tergenang secara terus-menerus menghasilkan emisi gas rumah kaca berupa metana.
“Sistem pengelolaan air pada lahan sawah yang terus tergenang berkontribusi terhadap pembentukan metana, yang merupakan salah satu gas rumah kaca,” kata , Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) I Gusti Komang Dana Arsana Komang, dalam orasi ilmiah Pengukuhan Profesor Riset, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Rabu 24 Juni.
Untuk itu, diperlukan teknologi pengelolaan air yang lebih efisien untuk mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Prof. Komang kemudian mengembangkan teknologi irigasi hemat air berbasis Alternative Wetting and Drying (AWD), yaitu sistem pengairan berselang yang membuat lahan sawah tidak selalu tergenang air.
Ia menjelaskan, perubahan iklim yang semakin nyata saat ini berdampak pada ketidakpastian pola curah hujan, mulai dari kekeringan di sejumlah wilayah hingga banjir di wilayah lain.
Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya kebutuhan air untuk berbagai sektor kehidupan. Sehingga, sektor pertanian dituntut untuk beradaptasi dengan penggunaan air yang lebih efisien.
Dalam sistem AWD, air irigasi diberikan sesuai kebutuhan tanaman, kemudian lahan dibiarkan mengering sebelum diairi kembali. Pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air.




