Setelah paus Orca muncul dekat pantai Botubarani, tiga hiu paus menghilang.
Informasi yang diperoleh Darilaut.id, periode 2016 hingga 2017 merupakan masa paling ramai kemunculan hiu paus. Saat itu, jumlahnya bisa mencapai belasan ekor dalam satu waktu, kata Olis.

“Waktu itu masih ada aktivitas pabrik (perusahaan perikanan PT Sinar Ponula Deheto) yang menghasilkan sisa makanan di laut,” kata Olis, selain itu, banyak plankton dan ikan kecil yang menjadi sumber makanan hiu paus.
Namun kini, kata Olis, dari tahun 2018 hingga 2025, kemunculan hiu paus tetap rutin terjadi per harinya, meskipun jumlahnya lebih stabil, berkisar antara satu hingga delapan ekor.
Setiap bulan, terutama pada musim ikan nike, masyarakat Botubarani dapat menyaksikan hiu paus berenang dengan tenang di sekitar pantai.
“Kalau musim nike, biasanya mereka muncul setiap hari. Rasanya seperti bertemu teman lama,” kata Olis.
Baginya, kehadiran hiu paus tidak hanya menjadi sumber kebanggaan warga, tetapi juga tanda bahwa laut mereka masih sehat.
Pokmaswas Orca yang dipimpinnya bersama warga setempat aktif melakukan pengawasan dan edukasi agar aktivitas wisata dan perikanan tidak mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Kehadiran hiu paus di Botubarani juga menjadi perhatian para peneliti dan lembaga konservasi. Salah satunya adalah Sukirman Tilahunga, Staf Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar Wilayah Kerja Gorontalo, yang turut melakukan pemantauan melalui teknologi penandaan atau tagging.




