“Hingga saat ini, hiu paus yang sudah di tagging ada lima ekor, termasuk dengan tagging satelit,” ujar Sukirman.
Menurut Sukirman, hasil pelacakan dari tagging satelit menunjukkan bahwa pergerakan hiu paus di Botubarani masih berada di kawasan Teluk Tomini.
“Dari data yang kami peroleh, daerah migrasi mereka tidak keluar dari kawasan Teluk Tomini. Mereka hanya bergerak di sekitar wilayah tersebut.”
Temuan ini menjadi kabar baik bagi konservasi laut Gorontalo. Artinya, perairan Teluk Tomini bukan hanya sekadar persinggahan, tetapi telah menjadi habitat penting bagi hiu paus di Indonesia bagian timur.
Ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan perairan di sekitar Botubarani masih mendukung bagi hiu paus untuk tetap berada di sana.
Hasil pemantauan tagging membantu pemerintah dan peneliti memahami pola migrasi, perilaku makan, dan interaksi hiu paus dengan manusia.
Informasi ini penting untuk pengelolaan kawasan konservasi dan pengaturan aktivitas wisata agar tetap ramah terhadap satwa laut dilindungi seperti hiu paus.
Sebab, menurut Sukirman, hiu paus punya peran penting menjaga keseimbangan ekosistem laut. Karena itu, sangat penting menjaga keseimbangan antara kegiatan wisata dan konservasi.
Sementara itu, Verrianto Madjowa, peneliti sekaligus Pemimpin Redaksi Darilaut.id menyoroti sepanjang tahun 2025, hiu paus terpantau hampir setiap hari di Botubarani, sejak Januari hingga awal November.




