Sasi menjadi kerangka etika untuk memastikan keberlanjutan generasi mendatang.
Di Maluku, langkah-langkah konservasi yang dijalankan Kewang Haruku, mulai dari penanaman bakau, penangkaran burung melew, penyelamatan penyu, hingga transplantasi terumbu karang, serta pembinaan kewang kecil bagi generasi muda penjaga lingkungan.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Jogaswara, mengatakan, kearifan lokal kini semakin relevan sebagai landasan pengelolaan lingkungan di tengah dinamika global.
Di tengah meningkatnya urgensi penanganan perubahan iklim yang kembali menjadi fokus dunia melalui forum COP30 di Brasil, BRIN menegaskan bahwa solusi lingkungan tidak hanya lahir dari laboratorium dan data sains, tetapi juga dari kearifan masyarakat adat yang menyimpan pengetahuan ekologis berusia ratusan tahun.
Hal tersebut mengemuka dalam Webinar MLTL Seri 33 bertema “Kearifan Lokal dalam Pemanfaatan dan Konservasi Sumber Daya Laut (Perspektif Tradisi Lisan)” yang diselenggarakan Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Kamis (20/11).
Webinar ini menegaskan bahwa kearifan lokal bukan hanya bagian dari warisan budaya, tetapi pilar penting dalam konservasi laut Indonesia. Dari pantun Haruku hingga Tibau di Sarawak, dari zonasi adat hingga intuisi ekologis masyarakat pesisir, tradisi lokal menyimpan metodologi konservasi yang dapat memperkaya pendekatan ilmiah kontemporer.




