Darilaut – Profesor Riset dari Pusat Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M. Reza Cordova, mengatakan keberlanjutan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan sampah yang baik dan bertanggung jawab.
“Pariwisata adalah aset ekonomi dan budaya Indonesia. Agar tetap bermartabat dan berkelanjutan, pengelolaan sampah harus menjadi bagian integral dari sistem pariwisata itu sendiri,” ujar Reza seperti dikutip dari Brin.go.id.
Menurut Reza tantangan utama pengelolaan sampah pariwisata di Indonesia tidak hanya terletak pada keterbatasan infrastruktur, tetapi juga pada lemahnya basis data dan belum konsistennya pengelolaan sampah dari sumber.
“Selama ini kita banyak berbicara soal sampah pariwisata, tetapi datanya masih parsial. Padahal, tanpa data yang terukur dan representatif, akan sulit merancang kebijakan yang tepat sasaran, terutama untuk subsektor seperti villa, homestay, dan usaha wisata skala kecil yang jumlahnya besar namun belum sepenuhnya tercatat,” kata Reza.
Aktivitas pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali. Sampah tidak hanya berasal dari wisatawan, tetapi juga dari aktivitas operasional sektor pariwisata seperti hotel, restoran dan kafe, dan pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.
Kondisi ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) studi Assessing Plastic Use and Pollution within the Tourism Sector in Indonesia yang diselenggarakan di Denpasar, Bali, pada Kamis (5/2).
FGD tersebut merupakan bagian dari kajian nasional yang bertujuan memetakan penggunaan plastik dan pola pencemaran di sektor pariwisata Indonesia. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, hingga organisasi masyarakat sipil.
Berdasarkan diskusi lintas pemangku kepentingan, terungkap bahwa lebih dari 50 persen timbulan sampah di Bali terkonsentrasi di empat wilayah utama, yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan.
Ke-4 wilayah ini merupakan pusat aktivitas pariwisata, dengan kepadatan hotel, restoran, kawasan wisata, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya. Kontribusi signifikan timbulan sampah berasal dari aktivitas pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sampah organik masih mendominasi komposisi sampah, terutama sisa makanan dari hotel dan restoran, serta limbah hijau seperti daun, ranting, dan rumput hasil perawatan taman dan lanskap kawasan wisata.
Namun demikian, fraksi sampah organik tersebut masih kerap diperlakukan sebagai sampah residu dan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Padahal, menurut Reza, potensi pengelolaan sampah organik sangat besar jika ditangani dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan. Padahal fraksi ini memiliki potensi besar untuk dikelola melalui berbagai metode, seperti komposting, teba modern, pemanfaatan maggot, atau melalui kerja sama dengan pengolah sampah organik lokal.
Selain sampah organik, penggunaan plastik sekali pakai dalam sektor pariwisata juga menjadi perhatian dalam kajian ini.
Mulai dari kemasan makanan dan minuman, perlengkapan mandi hotel, hingga kantong plastik dan kemasan sekali pakai lainnya masih banyak digunakan dan berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan, termasuk pencemaran laut.
