“Program pemuliaan tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan proses panjang dan berkelanjutan untuk menjaga keragaman genetik sekaligus menghasilkan varietas unggul,” ujar Eni seperti dikutip dari Brin.go.id.
Menurut Eni, Indonesia memiliki sekitar 1.300 spesies ikan air tawar yang berpotensi dikembangkan, termasuk sebagai sumber daya genetik ikan hias. Arwana, rainbow fish, rasbora, wild betta, dan botia merupakan beberapa di antaranya.
“Biodiversitas merupakan modal genetik sekaligus bank gen alami yang menyediakan berbagai alel unggul untuk pengembangan varietas,” kata Eni dalam Webinar Nasional Aquatalk #11 bertema “Masa Depan Industri Ikan Hias Indonesia: Biodiversitas, Inovasi, Pasar Global, dan Penguatan Kelembagaan”, pada Selasa (22/9).
Dalam proses tersebut, pengelolaan sumber daya genetik perlu berjalan bersama dengan konservasi in situ dan ex situ, sistem dokumentasi, serta pemanfaatan data genetik untuk penelitian dan program pemuliaan. Pendekatan ini dapat mendukung pemanfaatan biodiversitas dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya genetik.
Kebutuhan penguatan ekosistem tersebut juga berkaitan dengan akses produk ikan hias Indonesia ke pasar global.
Ketua Asosiasi Eksportir Ikan Hias Indonesia Teguh Minarno Wijaya mengatakan bahwa kinerja ekspor ikan hias Indonesia menunjukkan peluang yang besar, tetapi masih perlu didukung standardisasi mutu, sertifikasi kesehatan ikan, kontinuitas pasokan, kemudahan layanan ekspor, serta promosi dan branding produk Indonesia.




