Kecemasan yang Berlebihan Dapat Mengganggu konsentrasi dan Memori Mahasiswa

Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). FOTO: HUMAS UNG

Darilaut – Kecemasan jika berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan memori, hingga performa mahasiswa.

Dalam perspektif psikologi, kecemasan tidak selalu buruk. Ia adalah sinyal kesiapan tubuh menghadapi tantangan. Masalah muncul ketika kecemasan menjadi berlebihan dan mengganggu performa.

Data nasional menunjukkan bahwa gangguan kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental paling umum di Indonesia.

Secara ilmiah, kecemasan merupakan respons otak terhadap situasi yang dianggap mengancam. Dalam batas tertentu, kecemasan justru adaptif karena membantu seseorang menjadi lebih waspada dan fokus.

Mahasiswa, terutama mahasiswa kedokteran yang menghadapi tuntutan akademik tinggi, termasuk kelompok rentan mengalami tekanan psikologis.

Dalam konteks pendidikan kedokteran, ujian bukan sekadar formalitas. Kompetensi dokter diatur melalui Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), sehingga setiap evaluasi akademik memiliki konsekuensi profesional.

Ujian selalu identik dengan tekanan. Namun, di pendidikan kedokteran, tekanan itu hadir dalam dua bentuk utama: ujian teori berbasis Computer-Based Test (CBT) dan ujian praktik klinis atau Objective Structured Clinical Examination (OSCE).

Pertanyaannya, apakah mahasiswa kedokteran lebih cemas menghadapi ujian praktik dibandingkan dengan  ujian teori?

Penelitian ini dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025). Para peneliti Fakultas Kedokteran, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) masing-masing: Siti Pratiwi Husa, Yancy Lumentut, Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, Maimun Ihsan, dan Muhamad Nur Syukriani Yusu.

Hasilnya cukup mengejutkan. Menurut peneliti, tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara mahasiswa sebelum menghadapi ujian teori dan sebelum OSCE.

Ujian teori (MCQ/CBT) menilai aspek pengetahuan dan analisis kognitif. Sementara OSCE menguji keterampilan klinis secara langsung melalui simulasi kasus dan pengamatan penguji.

Banyak penelitian sebelumnya menyebut OSCE sebagai ujian yang “menegangkan” karena mahasiswa dinilai secara langsung di tiap stasiun praktik.

Namun dalam penelitian ini, dari 48 mahasiswa angkatan 2022 yang diteliti (1) 60,4% tidak mengalami kecemasan sebelum ujian teori; (2) 58,4% tidak mengalami kecemasan sebelum OSCE; (3) Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan nilai p = 0,224, yang berarti tidak ada perbedaan signifikan antara tingkat kecemasan sebelum kedua jenis ujian tersebut

Temuan ini berbeda dengan sejumlah studi sebelumnya yang menunjukkan OSCE cenderung memicu kecemasan lebih tinggi, menurut peneliti.

Mengapa Hasilnya Berbeda? Secara opini ilmiah, ada beberapa kemungkinan penjelasan.

Pertama, efikasi diri mahasiswa. Mahasiswa dengan kepercayaan diri tinggi dan kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung mampu mengelola tekanan ujian. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi efikasi diri, semakin baik kemampuan self-regulated learning seseorang

Kedua, jenis ujian yang dihadapi. Penelitian ini dilakukan pada ujian blok integumen yang dinilai memiliki tingkat kesulitan relatif lebih rendah. Tingkat kesulitan materi dapat memengaruhi persepsi ancaman dan tingkat kecemasan.

Ketiga, pengalaman sebelumnya. Mahasiswa yang sudah pernah menghadapi OSCE kemungkinan telah mengembangkan strategi coping yang lebih efektif. Artinya, kecemasan bukan hanya soal jenis ujian, tetapi juga soal kesiapan psikologis dan pengalaman individu.

Karakteristik Mahasiswa

Penelitian ini juga menunjukkan mayoritas responden berusia 20 tahun dan didominasi mahasiswa perempuan (60,4%).

Beberapa studi menyebutkan mahasiswa perempuan cenderung unggul dalam keterampilan komunikasi saat OSCE, yang dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Namun demikian, faktor psikososial seperti dukungan sosial, tekanan akademik, dan budaya belajar juga berperan besar dalam membentuk respons emosional terhadap ujian.

Implikasi bagi Pendidikan Kedokteran

Temuan ini memberikan pesan penting bagi institusi pendidikan kedokteran: mengurangi kecemasan mahasiswa bukan hanya soal mengubah format ujian, tetapi juga memperkuat kesiapan mental dan efikasi diri.

Program pelatihan coping strategy, simulasi ujian, pembinaan mental, serta lingkungan akademik yang suportif dapat membantu mahasiswa mengelola tekanan secara sehat.

Pada akhirnya, kompetensi dokter bukan hanya tentang pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga stabilitas emosional dalam menghadapi tekanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kesiapan yang baik, mahasiswa mampu menghadapi ujian teori maupun praktik tanpa perbedaan tekanan yang berarti.

Pesannya jelas, yang menentukan bukan ujiannya, melainkan bagaimana mahasiswa memaknai dan mempersiapkan diri menghadapi ujian tersebut. Dan dalam dunia kedokteran, kesiapan mental sama pentingnya dengan kesiapan akademik.

Exit mobile version