Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global global.
Pada Dasarian II Juni 2026, anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di region Nino 3.4 tercatat sebesar +1.61. Angka ini mengindikasikan El Nino Condition, yang menjadi sinyal kuat akan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah. Selain itu, suhu udara maksimum selama periode 22–24 Juni 2026 juga tercatat cukup tinggi, berkisar antara 35 – 35,5°C di wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Suhu tertinggi bahkan terpantau di Papua Barat yang mencapai 38,6°C.
Kendati kemarau mulai meluas, hujan dengan intensitas signifikan (lebat hingga sangat lebat) masih terjadi di sejumlah wilayah, terutama di bagian utara Indonesia dan wilayah ekuator.
Pada periode 22–24 Juni 2026, curah hujan tertinggi tercatat di Kalimantan Barat (149 mm/hari), disusul Jawa Timur (106 mm/hari), Kepulauan Riau (93 mm/hari), Sumatra Utara (92 mm/hari), Sumatra Barat (80 mm/hari), Papua Tengah (62 mm/hari), DKI Jakarta dan Aceh (59 mm/hari), Nusa Tenggara Barat (54 mm/hari), serta Jambi (53 mm/hari).
Tingginya curah hujan lokal ini dipicu oleh aktivitas dinamika atmosfer yang saat ini aktif, di antaranya Gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Papua, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial di wilayah Sumatra dan Papua.




