Darilaut – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, mengatakan, krisis ekologis tidak bisa dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis.
“Krisis ekologi tidak hanya terjadi karena persoalan alam, tetapi juga karena dinamika dalam sistem sosial,” ujar Arif saat memberikan sambutan di Forum Group Discussion (FGD) ”Pencegahan Krisis Ekologis dan Bencana Alam.”
”Ketidakseimbangan relasi kuasa antara aktor ekonomi, politik, dan masyarakat sipil turut memengaruhi bagaimana alam dikelola.”
Krisis lingkungan juga merupakan hasil dari relasi kuasa yang timpang antara berbagai aktor dalam sistem sosial, mulai dari masyarakat, pelaku ekonomi, hingga aktor politik dan pemerintah.
Melansir Brin.go.id, Arif menegaskan pentingnya pendekatan holistik, dalam upaya pencegahan krisis ekologis dan penanggulangan bencana alam.
Upaya ini menurutnya tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola sumber daya alam dan relasi sosial-politik.
Arif menyampaikan BRIN memiliki mandat untuk hadir secara aktif dalam penyelesaian persoalan kebencanaan di Indonesia, sebagaimana juga disorot dalam rapat dengar pendapat dengan DPR RI kemarin.
Kehadiran tersebut diwujudkan melalui pengembangan dan pemanfaatan berbagai teknologi kebencanaan.




