Bukan hanya pergeseran tanah dan guncangan sangat kuat yang dirasakan mahasiswa KKN UMY saat itu. Tak lama, kepala dusun di tempat mahasiswa menjalankan pengabdian pada masyarakat mengarahkan agar segera ke perbukitan.
Tsunami terdeteksi.
Kepala dusun setempat langsung menginstruksikan ”warga dan kami para mahasiswa untuk naik ke perbukitan begitu ancaman tsunami terdeteksi,” ujar perwakilan mahasiswa KKN UMY, Didan Oktanova Hermawan (Awan) yang menceritakan melalui situs web umy.ac.id.
Mahasiswa KKN UMY tidak langsung bergegas ke perbukitan. Evakuasi mendahulukan kelompok rentan dengan armada kendaraan bak terbuka.
Mahasiswa dan warga lainnya berjalan kaki menuju area perbukitan yang aman. Sejumlah nelayan segera membawa kapal ke tengah laut.

Stasiun pemantauan BMKG mencatat tsunami tiba di sepuluh titik pesisir dengan ketinggian gelombang yang bervariasi.
Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) BMKG mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter. BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB atau 08.30 Wita.
Relawan Bencana
Hingga Sabtu siang, tidak ada laporan korban jiwa di lokasi penugasan KKN UMY. Gempa utama memicu kepanikan warga yang menyebabkan sejumlah orang mengalami luka ringan. Kerusakan fisik juga terjadi di beberapa titik, salah satunya bangunan masjid di Nanga Mbaling.




