Beberapa di antaranya indikator keragaman spesies, kelimpahan populasi, laju kepunahan lokal, serta karbon stok dari biomass.
“Database IBI ini akan digunakan sebagai dasar untuk memberikan masukan terkait putusan dan kebijakan yang tepat bagi pemerintah untuk pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Beberapa kegunaan data sains yang dihasilkan antara lain mengukur kinerja keanekaragaman hayati oleh daerah, pengelolaan konsensi berupa kebun, hutan tanaman industri, dan hak pengusahaan hutan.
Lalu, pengelolaan oleh masyarakat dan unit ekologi seperti ecoregion dan daerah aliran sungai.
“Data ini penting, karena tidak bisa membangun sesuatu dengan pasti tanpa ada dukungan data sehingga kita fokus untuk membenahi dan mengelola data biodiversitas Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Prof. Daryono, mengatakan Indeks Biodiversitas Indonesia sangat diperlukan untuk mengukur tren biodiversitas nasional.
Data IBI ini dibutuhkan untuk mendorong pemerintah pusat dan daerah lebih giat melakukan konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
Meskipun sebelumnya Indonesia menerapkan Convention on Biodiversity (CBD) dan Sustainable Development Goals (SDGs) sebagai landasan aksi konservasi hayati. Namun, status dan tren penurunan populasi masih terus berlanjut dan kian memprihatinkan.





Komentar tentang post