Darilaut – Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut, mengatakan, media siber lokal yang menyajikan konten lokal sangat diperlukan pembaca di era digital masa kini.
Seiring dengan digitalisasi, kata Wens, masyarakat tidak hanya tertarik pada pemberitaan nasional, tetapi juga berita lokal yang kini banyak dihasilkan media siber lokal.
“Local content kini sangat berharga. Teman-teman di Sultra (Sulawesi Tenggara) tidak hanya butuh informasi yang sifatnya nasional tapi juga butuh informasi-informasi daerah di sekitar kita,” ujar Wens, saat acara pelantikan dirangkai dengan diskusi media bertajuk “Inovasi Media Siber Daerah dalam Mempertahankan Independensi”, Rabu (23/6) secara daring.
Wens berharap media siber lokal tidak hanya memajang iklan, tetapi juga dapat memecahkan masalah (problem solving) yang ada di publik. Media yang seperti inilah yang kini dibutuhkan masyarakat.
Wens meminta kepada media-media siber lokal mulai berpikir untuk saling berkolaborasi, bukan lagi saling berkompetisi. Dengan kolaborasi, media siber dapat saling melengkapi dan memudahkan banyak hal, salah satunya efisiensi.
Dalam kegiatan ini, Pemimpin Redaksi SultraKini.com, M Djufri Rachim dilantik sebagai Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) periode 2020 – 2023 oleh pengurus AMSI Pusat di Kendari, Rabu (23/6).
Djufri didampingi sekretaris Nuriadi (Lenterasultra.com) dan bendahara Ahmad Nizar (Teramadia.id) serta jajaran pengurus lain yang berasal dari 20 media siber di wilayah ini.
Pelantikan dilakukan oleh Korwil AMSI Indonesia Timur Upi Asmaradhana (CEO Kabar Indonesia Group Network) didahului pembacaan SK Pengurus oleh Ketua Umum AMSI Pusat diwakili Machroni Kusuma.
Kegiatan ini dihadiri Kapolda Sulawesi Tenggara (Irjen Pol Yan Sultra, Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh dan sejumlah ketua organisasi profesi, serta pejabat dinas provinsi dan kota. Sementara Gubernur Sultra diwakili oleh Kepala Dinas Kominfo Sultra Ridwan Badallah.
Ketua AMSI Sultra, M Djufri Rachim dalam sambutannya mengatakan secara nasional AMSI telah beranggotakan 300 media lebih beranggotakan rata-rata media besar nasional dan media besar di setiap provinsi nusantara. Sedangkan AMSI Sultra beranggotakan 20 media siber.
Djufri memastikan media siber anggota AMSI di Sultra selama ini senantiasa terkontrol dan bertanggungjawab penuh dalam melakukan pemberitaan. Terutama konten berita yang bermanfaat secara positif pada kepentingan masyarakat umum dan kepentingan pembangunan daerah, terutama dalam menjaga stabilitas keamanan.
“Hal ini menjadi komitmen media anggota AMSI Sultra, sebab kami menyadari penuh, di tengah derasnya gelombang media digital yang lahir di daerah ini, harus diakui bahwa ada di antaranya ikut menyebarkan berita yang tidak memenuhi standar jurnalisme yang telah diatur dalam rel kode etik jurnalistik maupun Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, serta pedoman pemberitaan media siber,” ujar Djufri.
Untuk mendorong media siber yang sehat di Sultra, kata Djufri, membutuhkan regulasi dari pemerintah daerah.
Sebagaimana diketahui, Gubernur Sultra telah mengeluarkan peraturan gubernur sejak tahun 2019 lalu, Pergub itu tidak dijalankan dengan baik.
“Padahal menurut hemat kami, Pergub itu telah mengatur dengan sangat baik bahwa hanya media yang sehat dalam arti mempunyai kantor dan karyawan dan struktur organisasi yang benar yang dapat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Bila Pergub itu dijalankan dengan baik, maka Pemerintah Provinsi Sultra telah mendorong sehatnya media sekaligus membina media-media yang belum standar menuju media professional. Misalnya harus bergabung dalam asosiasi media yang menjadi konstituen Dewan Pers.
Gubernur Sultra melalui Kadis Kominfo Sultra Ridwan Badallah mendukung penuh terhadap kebebasan pers di Sultra, yakni kebebasan pers yang bertanggungjawab.
Dalam rangka mewujudkan iklim demokrasi yang baik, dibutuhkan adanya kebebasan pers yang sesungguhnya menjadi indikator kesehatan demokrasi bagi sebuah negara.
“Sebagai pilar keempat demokrasi, media berperan sebagai agen publik untuk memperoleh akses informasi, sekaligus berperan mengawasi kekuasaan,” ujar gubernur Sultra.
Gubernur menilai, kehadiran AMSI di Sultra adalah pertanda bahwa ada semangat untuk terus memperbaiki kualitas jurnalisme, yang pada gilirannya memperbaiki kualitas demokrasi.
Menurut Gubernur, kebebasan pers itu ibarat oksigen bagi pertumbuhan dan perkembangan demokrasi, kadarnya harus cukup, tidak boleh kurang dan juga tidak boleh berlebihan.
Kebebasan pers yang dibingkai dengan budaya ketimuran dan nilai-nilai moral yang menyertainya ini sejalan dengan program prioritas pembangunan di Sultra, yakni Sultra Berbudaya.
“AMSI Sultra bersama rekan-rekan jurnalis diharapkan dapat membendung informasi-informasi yang mempunyai dampak negatif yang berpengaruh besar pada prilaku masyarakat sekaligus menjadi filter, agar masyarakat memperoleh informasi yang benar, objektif, dan netral yang mendidik, mencerahkan dan membangun prilaku masyarakat yang berbudaya dan beriman,” ujarnya.
Gubernur juga berharap AMSI Sultra agar dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mendukung percepatan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah daerah dalam rangka mewujudkan Provinsi Sultra yang berkemajuan dan berdaya saing di segala bidang.
Setelah pelantikan, acara dilanjutkan dengan diskusi media. Hadir sebagai pembicara Direktur Main Pictures & Direktur Berita Indonesia Link Machroni Kusuma yang membahas tentang “Inovasi dan Kreativitas Audio Visual Konten Media Siber”. Koordinator Wilayah AMSI/Founder Kabar Grup Indonesia Upi Asmaradhana membahas tentang “Kemandirian Perusahaan Pers Menghadapi Bisnis Media Siber”.
Selain itu, Sekjen AMSI Pusat/Pemred Majalah Tempo Wahyu Dhyatmika membawakan materi secara virtual tentang “Lingkungan Media Digital Menuju Kemandirian dan Profesionalitas Media Siber”.
