Lahan Basah Diambang Kehancuran

Ilustrasi mangrove. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Beragam lahan basah di seluruh dunia berada di bawah ancaman kehancuran. Lahan basah yang mengalami kerusakan akan memberikan efek langsung pada keanekaragaman hayati, serta kehidupan dan mata pencaharian manusia.

Di pesisir terdapat sejumlah lahan basah seperti ekosistem mangrove (bakau), rawa asin, lamun, hutan supratidal dan lain-lain.

Menurut Global Mangrove Alliance tema hari lahan basah, yang jatuh pada 2 Februari tahun ini, adalah tema yang tepat. Lahan basah di seluruh dunia berada di bawah ancaman kehancuran dari pembangunan infrastruktur, ekstraksi sumber daya, dan perubahan iklim.

Tak terkecuali ekosistem mangrove tidak terkecuali. Meski demikian, ada alasan untuk optimis. Deforestasi dan perusakan telah melambat dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan melindungi pohon-pohon pesisir ini, semua manfaat mangrove bagi manusia dan alam akan terpelihara. Selain itu, kemampuan mangrove untuk menyimpan berton-ton karbon dari atmosfer memberikan dorongan yang diperlukan untuk upaya memperlambat perubahan iklim.

Tema global Hari Lahan Basah Sedunia tahun 2022 adalah “Value-Manage-Restore-Love Wetlands”, yang dimaksud sebagai seruan kepada para pihak untuk mensosialisasikan aksi pengelolaan lahan basah melalui anggaran, sumberdaya dan kebijakan, dan pemulihan lahan basah yang telah terdegradasi.

Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) setiap tanggal 2 Februari diperingati dengan ditandatanganinya perjanjian internasional untuk melindungi lahan basah di seluruh dunia. Perjanjian internasional tersebut lebih dikenal dengan Konvensi Ramsar, di Kota Ramsar, Iran pada tahun 1971.

Konvensi Ramsar bertujuan untuk mendorong upaya konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara bijaksana melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di seluruh dunia.

Di Indonesia Hari Lahan Basah Sedunia diperingati di sejumlah lokasi, seperti di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Jakarta, Rabu (2/2). Pulau Rambut sebagai salah satu Situs Ramsar di Indonesia.

Sebagai salah satu negara yang memiliki ekosistem lahan basah terluas di Asia –setelah China–, Pemerintah Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Sebagai Otoritas Administratif Ramsar Indonesia, KSDAE berkewajiban untuk mensosialisasikan nilai penting lahan basah kepada seluruh lapisan di antaranya melalui perayaan Hari Lahan Basah Sedunia setiap tahunnya.

Kegiatan Perayaan Hari Lahan Basah Sedunia tahun ini dilaksanakan bersama-sama dengan perwakilan dari Direktorat Teknis Lingkup Ditjen KSDAE, Petugas Balai KSDA DKI Jakarta, Petugas Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Pemerintah Daerah Kepulauan Seribu, Yayasan Lahan Basah, serta masyarakat sekitar Pulau Rambut.

Dengan rangkaian kegiatan terdiri dari 100 ekor tukik jenis hijau, bersih-bersih dan pilah sampah yang mengumpulkan penanaman 400 bibit bakau yang ditanam dengan metode rumpun tambahan dalam 4 bedeng.

Suaka Margasatwa Pulau Rambut dipilih sebagai peringatan peringatan karena memiliki ciri khas ekosistem mangrove dan habitat burung khususnya jenis burung merandai dan beberapa burung migran sehingga kawasan ini juga dikenal sebagai surga burung di pantai Jakarta Utara.

Beberapa jenis burung yang dilindungi yang terdapat di kawasan ini antara lain Pecuk Ular, Roko-roko, Bluwok, Kuntul, Pelatuk Besi, Cangak, Elang bondol dan juga dapat ditemukan berbagai jenis burung penyanyi seperti Kepodang, Jalak Suren, Kutilang, dan Prenjak.

Hari Lahan Basah Sedunia, juga diperingati Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dengan melepas 320 satwa, Rabu (2/2) di Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke.

Satwa yang dilepasliarkan adalah 300 ekor arwana irian (Scleropages jardinii) hasil penyisihan kuota tangkap tahun 2021, 9 ekor kura-kura papua leher panjang (Chelodina novaeguineae) hasil translokasi dari DKI Jakarta tahun 2021, serta 3 ekor soa payung (Chlamydosaurus kingii) dan 8 ekor kadal lidah biru (Tiliqua gigas) hasil translokasi dari Sumatera Selatan tahun 2021.

Exit mobile version