Laporan ini juga mengkaji bagaimana nasib terumbu karang di masa depan berdasarkan berbagai skenario, dengan membuat simulasi perbedaan durasi pemulihan di antara peristiwa pemutihan karang global sepanjang abad ini.
“Kita tahu apa langkah yang efektif. Upaya konservasi lokal, pengelolaan wilayah laut yang efektif, serta integrasi Pengetahuan Tradisional dengan inovasi ilmiah telah menunjukkan hasil positif di berbagai belahan dunia dan menawarkan solusi yang ampuh,” kata Duta Besar Ilana Seid, Wakil Tetap Palau untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
”Tantangan yang kita hadapi kini bukan lagi menentukan apa yang harus dilakukan, melainkan menemukan tekad bersama untuk mewujudkannya.”
Aset Paling Berharga
Laporan tersebut menemukan bahwa dengan frekuensi peristiwa pemutihan karang global saat ini (setiap 5–6 tahun), terumbu karang diperkirakan akan terus mengalami penurunan.
Sebaliknya, pengurangan emisi secara ambisius yang dipadukan dengan pengelolaan efektif terhadap tekanan lokal—seperti penangkapan ikan berlebih, pembangunan pesisir, dan buruknya kualitas air—menawarkan jalan terbaik untuk mempertahankan tutupan karang keras.
Terumbu karang merupakan salah satu aset alam paling berharga di dunia—infrastruktur hidup yang menopang ketahanan pangan, mata pencaharian, perlindungan pesisir, perekonomian, keanekaragaman hayati, serta identitas budaya bagi hampir satu miliar orang.




