Darilaut – Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Arie Sujito mengatakan, wabah penyakit Covid-19 ini tidak semata-mata hanya menjadi persoalan kesehatan saja. Namun, wabah ini memunculkan kerentanan ekonomi yang juga harus dicarikan solusi.
Karena itu, kombinasi penegakan hukum dengan menaati aturan dan partisipasi masyarakat dalam membangun kesadaran warga untuk menjaga kepentingan bersama penting dilakukan. Membangun kesadaran warga dilakukan dengan memberikan edukasi terkait risiko penularan Covid-19.
Menurut Arie, selain menekankan untuk menjalani hidup sehat, memakai masker, serta menjaga jarak, perlu edukasi, yang tidak semata-mata hanya aturan formal saja. Namun, ada seruan atau kampanye literasi di media dan komunitas untuk meningkatkan pencegahan Covid-19.
Wabah penyakit infeksi virus corona, sudah tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Untuk memutus mata rantai penularan, pemerintah menginstruksikan masyarakat untuk mematuhi sejumlah protokol pencegahan virus corona, termasuk menjalani social distancing dan physical distancing.
Ugm.ac.id melansir, sampai saat ini masih ada masyarakat yang tidak mematuhi aturan tersebut. Misalnya saja, masih banyak orang berkerumun di warung kopi, nongkrong di pinggir jalan, bahkan nekat mudik ke kampung halaman.
Arie mengatakan, fenomena itu terjadi karena masyarakat Indonesia hidup dengan relasi komunal dan interaksi sosial yang kuat. Kultur masyarakat masih komunal dan cukup kuat sehingga cenderung bergaul komunal.
Menurut Arie, masyarakat Indonesia sangat beragam. Masing-masing daerah di tanah air memiliki keragaman termasuk pola interaksinya. Meskipun ada beberapa kasus masyarakat yang tidak taat aturan, tetapi di sisi lain tidak sedikit masyarakat yang mematuhi aturan pemerintah dengan tetap berdiam diri di rumah.
Perlu pendekatan multidimensional dalam menghadapi fenomena itu. Misalnya, pada masyarakat kota dan masyarakat desa membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Ketidakdisiplinan untuk menjalani sosial distancing maupun physical ditancing ditimbulkan oleh beragam faktor. Salah satunya adalah ada keterpaksaan untuk tetap berkegiatan di luar rumah dengan alasan ekonomi. Selain itu, juga dikarenakan adanya gap pengetahuan di masyarakat.
“Harus ada pendekatan yang multidimensi satu sama lain harus mengisi. Jadi, tidak bisa dibentur-benturkan. Perlu dicari simpul pendekatan budaya, aturan, dan aktor,” ujar Arie, seperti dikutip dari Ugm.ac.id.
Terkait banyaknya masyarakat yang nekat mudik ke daerah asalnya, kata Arie, mudik bagi masyarakat Indonesia telah menjadi sebuah tradisi yang dijalani setiap tahunnya.
Selain itu, mudik juga menjadi pilihan masyarakat perantauan yang terimbas perekonomiannya akibat wabah corona. Hanya saja, dalam kondisi saat ini seyogianya masyarakat yang memang tidak harus mudik untuk tidak memaksakan diri untuk mudik.
Menurut Arie, harus dibangun kesadaran, berkomunikasi dengan keluarga saling memahami situasi darurat. Ada banyak cara untuk silaturahmi tidak hanya mudik. Yang tetap nekat mudik diedukasi untuk melakukan isolasi mandiri selama 2 minggu.*
