Ketua Presidium MAFINDO, Septiaji Eko Nugroho, menjelaskan bahwa teknologi AI mengubah cara masyarakat bekerja, mengonsumsi dan memproduksi informasi, serta mengatasi masalah. “AI secara drastis mengubah bagaimana komunitas masyarakat sipil menjalani kerja edukasi dan advokasi,” kata Septiaji.
”AI harus dipandang sebagai mitra kolaborasi yang bisa memberikan banyak manfaat, tanpa melupakan dampak risiko AI yang harus dimitigasi. Dengan pemahaman penerapan AI yang seimbang, komunitas masyarakat sipil dapat lebih gesit untuk mengatasi permasalahan masyarakat di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks.”
Septiaji mengatakan banyak persoalan publik saat ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan kerja manual atau pola pikir lama. Dari deteksi hoaks, pemetaan masalah sosial, analisis tren, hingga produksi konten edukatif, kini membutuhkan bantuan AI agar hasilnya lebih presisi dan berdampak. Pendekatan tersebut, kata Septiaji, harus dapat diakses oleh siapa pun yang bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Salah satu sorotan penting dalam pelatihan ini dengan kehadiran News Partnerships, Google APAC, Faith Chen yang menekankan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Masyarakat sipil, kata Chen, memiliki peran besar dalam memastikan teknologi ini tidak memperparah polarisasi, melainkan memperluas ruang aman digital.




