Salah satu upaya untuk memperkuat pemahaman tersebut dilakukan melalui penelitian terhadap kondisi sistem magma di bawah Krakatau.
Peneliti Ahli PRKG BRIN, Aditya Pratama, menjelaskan hasil penelitiannya mengenai “Magma Storage Conditions Beneath Krakatau, Indonesia: Insight from Geochemistry and Rock Magnetism Studies”, yang telah dipublikasikan dalam Frontiers in Earth Science pada 2023.
Aditya mengatakan bahwa Krakatau merupakan sistem gunung api dengan sejarah aktivitas yang panjang. Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika letusan mencapai VEI (Daya Ledak Vulkanik) 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.
Dalam sejarah geologinya, sistem Krakatau diketahui telah mengalami sedikitnya dua caldera-forming eruption atau letusan pembentukan kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau 6 dan pada 1883 M.
Dinamika aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan risiko bagi kawasan sekitarnya.
Dampaknya dapat berkaitan dengan keselamatan masyarakat pesisir dan aktivitas pelayaran di Selat Sunda.
Pemahaman mengenai perubahan sistem magma di bawah gunung api tersebut diperlukan untuk memperkuat mitigasi risiko bencana geologi dan pengembangan sistem peringatan dini.



