Dalam webinar turut memberikan materi Prof. Sebastian Watt dari University of Birmingham mengenai “Historical Context and Future Development of Anak Krakatau” serta Semeidi Husrin, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi mengenai “Data dan Fakta Monitoring 24 Jam Potensi Tsunami Krakatau dengan IDSL/PUMMA”.
Konsentrasi Sulfur Dioksida
Gunung Anak Krakatau memasuki periode aktivitas erupsi berkelanjutan pada 4 September 2026 yang berlangsung selama sekira 25 jam.
Anak Krakatau adalah gunung berapi aktif di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra.

Citra yang ada dalam gambar, dihasilkan menggunakan data dari satelit Copernicus Sentinel-5P pada 6 September 2026, memperlihatkan peningkatan konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) yang terkait dengan erupsi tersebut.
Awan gas dan abu membentang sejauh ratusan kilometer ke arah barat di atas Samudra Hindia, dengan konsentrasi lebih tinggi divisualisasikan dalam nuansa warna merah.
Kemampuan pemantauan atmosfer Copernicus Sentinel-5P mendukung deteksi dan pelacakan emisi gas serta abu vulkanik—yang merupakan bahaya bagi keselamatan penerbangan—serta mendukung penilaian kualitas udara dan studi iklim.Eksplorasi Ilmu Atmosfer
Satelit Copernicus Sentinel-2 juga berhasil menangkap citra letusan Gunung Anak Krakatau. Rekaman kolom erupsi tersebut membubung hingga ketinggian sekitar 15 km, tulis dari Copernicus Eropa melalui akun X @CopernicusEU.



