Darilaut – Membangun sumber daya manusia (SDM) unggul melalui riset dan kolaborasi international salah satu materi yang disampaikan untuk mahasiswa baru di Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Hari pertama Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) bukan hanya sekadar menjadi ruang bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan akademik.
Lebih dari itu, PKKMB menjadi momentum untuk menanamkan cara pandang baru tentang bagaimana mahasiswa harus menyiapkan diri sebagai bagian dari sumber daya manusia unggul di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Hal ini disampaikan Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Zulkifli Tanipu, Ph.D, pada Kamis (13/8).
Zulkifli membawakan materi dengan judul “Penguatan SDM FSB dan Kolaboratif Riset dan Kerja Sama Nasional serta Internasional.”
Dalam perspektif yang lebih luas, materi ini menjadi penting karena mahasiswa hari ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik yang diperoleh di ruang kuliah.
Dunia kerja, perkembangan teknologi, serta dinamika masyarakat menuntut lulusan yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, bekerja dalam tim, melakukan riset, sekaligus membangun jejaring kolaborasi lintas institusi dan negara.
Ada satu paradigma yang perlu mulai ditanamkan sejak mahasiswa menginjakkan kaki di kampus: kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan nilai, tetapi tentang membangun kapasitas diri.
Fakultas Sastra dan Budaya UNG memiliki ruang yang sangat besar untuk pengembangan kapasitas tersebut. Bidang bahasa, sastra, seni, budaya, hingga pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan perkembangan industri kreatif, kata Zulkifli.
Karena itu, menurut Zulkifli, mahasiswa dituntut tidak berhenti pada teori, tetapi mampu mengubah pengetahuan menjadi gagasan, karya, penelitian, maupun inovasi yang memberikan manfaat nyata.
Di sinilah penguatan sumber daya manusia menjadi fondasi utama.
”Mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk bertanya, membaca, meneliti, berdiskusi, berorganisasi, mengikuti kompetisi, membangun jejaring, hingga terlibat dalam berbagai kegiatan akademik dan nonakademik,” ujarnya.
”Pengalaman-pengalaman tersebut pada akhirnya akan membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia profesional.”
Salah satu hal menarik dari materi yang disampaikan Zulkifli Tanipu adalah pentingnya menempatkan riset sebagai bagian dari budaya akademik mahasiswa.
Riset bukan hanya milik dosen atau mahasiswa tingkat akhir. ”Sejak semester awal, mahasiswa sesungguhnya sudah dapat belajar menjadi seorang peneliti melalui hal sederhana,” mengamati persoalan di lingkungan sekitar, membaca referensi, mengajukan pertanyaan, ”mengumpulkan data, kemudian mencari solusi berdasarkan pendekatan ilmiah,” kata Zulkifli.
Bagi mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya, ruang riset tersebut sangat luas. Bahasa, sastra, seni, budaya, dan pariwisata menyimpan berbagai fenomena yang dapat dikaji dari perspektif lokal hingga global.
Dengan demikian, ”mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat berkembang menjadi produsen pengetahuan,” ujarnya.
Materi ini juga membawa mahasiswa pada satu pemikiran penting: kemajuan tidak dibangun sendirian.
Kolaborasi menjadi kata kunci dalam pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama dengan sesama mahasiswa, dosen, perguruan tinggi lain, pemerintah, dunia industri, komunitas, hingga mitra internasional dapat membuka ruang belajar yang jauh lebih luas.
Kolaborasi nasional dan internasional juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat bahwa persoalan bahasa, budaya, seni, dan pariwisata tidak hanya menjadi isu lokal. Banyak di antaranya memiliki relevansi global.
Karena itu, mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya UNG perlu mulai membangun keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Tidak hanya mengenal kampus sendiri, tetapi juga mengenal dunia di luar kampus.
Mahasiswa baru Fakultas Sastra dan Budaya UNG perlu melihat empat tahun masa studi bukan sekadar perjalanan menuju ijazah. ”Masa tersebut merupakan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi,” kata Zulkifli, dengan memperluas pengalaman, membangun jejaring, menghasilkan karya, melakukan penelitian, dan mempersiapkan diri menjadi lulusan yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Sebab, SDM unggul tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui proses belajar yang konsisten, keberanian mencoba, kemampuan berkolaborasi, serta kemauan untuk terus berkembang.
