Akumulasi limbah tersebut dapat memicu eutrofikasi, yaitu peningkatan kadar nutrien seperti nitrogen dan fosfor secara berlebihan yang mengganggu keseimbangan ekosistem serta kesehatan organisme budidaya.
Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah terjadinya hipoksia akibat penurunan oksigen terlarut yang berbahaya bagi organisme budidaya, bahkan dapat menyebabkan stres hingga kematian massal.
Selain itu, penurunan kualitas air juga meningkatkan risiko berkembangnya patogen yang menyerang ikan, udang, maupun rumput laut.
Awaludin menjelaskan bahwa sejumlah strategi budi daya laut berkelanjutan yang dapat diterapkan, di antaranya penerapan sistem Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), rehabilitasi mangrove, serta pengaturan zonasi budidaya agar sesuai dengan daya dukung lingkungan.
Untuk itu, penting melakukan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan implementasi berjalan optimal.
Tidak hanya pada tataran konsep, BRIN juga melakukan tahapan riset secara komprehensif untuk mendukung strategi tersebut.
Tahapan ini meliputi monitoring kualitas air, analisis polutan, uji lapang, hingga pemodelan lingkungan guna memahami peran mangrove secara lebih mendalam.




