Kondisi tersebut berdampak langsung pada menurunnya hasil panen rumput laut masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, kajian mikroplastik di kawasan mangrove juga menunjukkan pencemaran plastik masih ditemukan, bahkan pada produk garam. Temuan ini menjadi perhatian penting dalam pengelolaan lingkungan pesisir secara menyeluruh.
Sebagai tindak lanjut, BRIN melalui tim riset akan mengembangkan berbagai solusi strategis, termasuk teknologi deteksi polutan berbasis sensor, pengembangan bibit mangrove, serta inovasi pengeringan rumput laut yang lebih higienis dan ramah lingkungan.
“Mangrove itu sebagai solusi alami yang strategis dalam kegiatan budidaya laut. Fungsi ekologis utamanya adalah sebagai biofilter, dan secara efektif serta berkelanjutan sangat dibutuhkan dalam kegiatan budidaya laut,” ujarnya.
Awaludin menegaskan mangrove berperan strategis dalam mendukung keberlanjutan budidaya laut sehingga perlu didukung implementasi yang lebih luas dan terintegrasi.
“Perlu implementasi lebih luas dan terintegrasi serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, swasta, peneliti, dan mahasiswa agar mangrove tetap lestari,” kata Awaludin.
Ekosistem mangrove berperan sebagai biofilter alami yang efektif dalam menyerap dan mengurai limbah perairan, sehingga menjadi solusi untuk menekan dampak pencemaran dari aktivitas budidaya laut.




