“Ketika viralitas sering menjadi pemberitaan, kami selalu merindukan praktik ‘check and balance’ dalam setiap pemberitaan,” kata Arya.
Sementara itu, Arif Mujahidin menyoroti perubahan strategi pemasaran di tengah perkembangan media digital. Menurutnya, perusahaan tidak bisa lagi menggunakan pendekatan komunikasi yang sama untuk semua kelompok audiens.
“Saat ini, lanskap komunikasi telah berubah drastis. Kita tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan one-size-fits-all,” ujar Arif.
Ia mengatakan, perusahaan perlu menciptakan pengalaman pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, bukan sekadar mengejar jumlah tayangan.

Cerita yang autentik dan dekat dengan kehidupan manusia dapat memperlihatkan nilai tambah produk sekaligus membedakan sebuah merek dari pesaing. Sementara itu, Adi S. Noegroho menyoroti pergeseran belanja iklan yang didominasi media sosial, termasuk TikTok, Meta, dan platform lain. Tren video pendek serta rekomendasi berbasis AI turut mengubah perilaku audiens dan cara masyarakat mencari informasi.
Adi menegaskan bahwa media siber perlu menjaga kredibilitas sekaligus beradaptasi dengan format konten yang diminati audiens. Ia mendorong pembahasan kolaborasi antara media dan penyedia AI terkait lisensi serta hak cipta konten untuk menjaga keberlanjutan industri media.



