Membangun Sistem Peringatan dan Mitigasi Tsunami

Kapal uap “Berouw” berpindah 3,3 kilo meter dari tempatnya berlabuh karena hempasan gelombang tsunami akibat letusan gunungapi Krakatau pada 27 Agustus 1883. GAMBAR: SIMKIN & FISKE/NONTJI (1993)

Darilaut – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan Side Event UNESCO-IOC 2nd Global Tsunami Symphosium 2024 di Balee Meuseuraya Aceh (BMA).

Kegiatan ini untuk merefleksikan apa yang telah dicapai oleh masing-masing negara dalam membangun sistem peringatan dan mitigasi tsunami regional dalam dua dekade.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan tujuan utama dari side event ini untuk mendorong dan mendukung para pemuda dan ilmuwan muda, pekerja tsunami, komunitas, pemerintah daerah dan media yang memiliki minat terhadap pengurangan risiko tsunami.

Selain itu, untuk menunjukkan kinerja dan hasil terbaru dari kegiatan dan inovasi mereka dalam bidang mitigasi tsunami, sesiapsiagaan tsunami, kesadaran tsunami, dan peringatan dini tsunami.

Kegiatan ini untuk mengindentifikasi kesenjangan, tantangan, dan prioritas peringatan dini tsunami. Melalui diskusi pada panggung ignite stage mengidentifikasi sinergi dengan tantangan global dan koherensi dengan komitmen global, khususnya dekade ilmu pengetahuan kelautan PBB untuk pembangunan berkelanjutan.

Acara Side Event Simposium Tsunami Global mengundang lembaga/organisasi, pakar, tokoh masyarakat, penyintas tsunami untuk berbagi cerita, praktik terbaik, serta pembelajaran yang berkaitan dengan kesiapsiagaan tsunami.

“Saya sangat menghargai profesionalisme dan semangat Anda dalam kepedulian terhadap tsunami. Pemikiran dan gagasan Anda akan sangat penting karena akan membantu kami mengidentifikasi inisiatif dan kegiatan yang dapat kita lakukan bersama melalui kerja sama yang kuat,” kata Daryono.

Acara ini akan berlangsung selama tiga hari mulai 10-12 November 2024. Para peserta side event meliputi LSM, praktisi, komunitas, dan peneliti yang telah mendaftarkan diri untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam bentuk stan pameran, ignite stage, dan sesi poster.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara di Samudera Hindia yang rentan terhadap bahaya tsunami. Oleh karena itu, keberadaan sistem peringatan dini tsunami menjadi suatu keharusan untuk menyelamatkan nyawa masyarakat.

“Indonesia terletak dekat dengan zona subduksi yang dapat menyebabkan tsunami di seluruh samudera, seperti yang kita pelajari pada tahun 2004 saat gempa Aceh-Andaman,” kata Nelly saat membuka side event tersebut, pada Minggu (10/11).

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, merupakan tanggung jawab bersama untuk membangun kapasitas agar saling menginformasikan secara tepat waktu kepada negara-negara Sumudera Hindia lainnya tentang kemungkinan ancaman tsunami.

Di sisi lain, meningkatkan mitigasi bencana, terutama gempa bumi dan tsunami akan menjadi bagian penting dari strategi pembangunan kota pesisir Indonesia.

Penting bagi masyarakat pesisir Indonesia untuk memiliki pengetahuan yang cukup, mengenai potensi ancaman tsunami beserta kerentanannya di lingkungan mereka.

BMKG mendorong semua pihak untuk membangun, memperkuat, dan mengembangkan kapasitas dan kemampuan dalam merespon ancaman tsunami yang disebut “Tsunami Ready Community” yang merupakan kontribusi terhadap Dekade Sains Kelautan PBB, yaitu menjadikan 100% masyarakat yang berisiko tsunami siap dan tangguh terhadap tsunami pada tahun 2030.

Exit mobile version