Menelusuri Faktor Penyebab Pencemaran Air

Sebagian besar sungai di Indonesia tercemar berat. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Dosen Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi bandung (ITB) Dr Dasapta Erwin Irawan mengatakan kita sering membayangkan bahwa pencemaran adalah sesuatu yang besar, contohnya pencemaran radioaktif yang terjadi di Chernobyl dan Fukushima atau pencemaran Kromium yang pernah terjadi di Amerika.

Padahal, kata dosen pada Kelompok Keahlian Geologi Terapan ini, pencemaran tidak harus sesuatu yang besar, melainkan banyak hal yang luput dari pandangan kita menjadi penyebab dari pencemaran air, seperti pembuangan hasil kegiatan mencuci piring atau pakaian.

Menurut Erwin, tanpa kita sadari, air dari pencucian piring dan pakaian yang ada di atas permukaan tanah, seperti air sungai, bisa berinteraksi dengan air tanah lama-kelamaan.

Interaksi ini dapat mengubah kondisi kedua air tersebut dari segi kuantitas dan kualitas. Dari segi kualitas, apabila air sungai tercemar maka air tanah lama-kelamaan akan mengalami penambahan zat organik, seperti bakteri, dan zat anorganik, seperti logam–logam berat.

Seperti dilansir Itb.ac.id, Program Studi Teknik Geologi ITB kembali melanjutkan rangkaian kegiatan webinar Geologi ITB Menyapa: Solidaritas untuk Negeri edisi ketiga belas. Webinar yang diadakan pada Sabtu, (20/2) lau dengan nara sumber Dr Erwin.

Tema kegiatan ini, “Limbah Industri Mungkin Bukan Sumber Pencemar Air Satu–satunya”.

Erwin menampilkan gambar sungai yang ada di Kota Bandung. Gembar tersebut menunjukkan bahwa kondisi sungai di kota–kota besar sudah berhimpit dengan rumah–rumah warga.

Selanjutnya, Erwin menunjukkan beberapa hasil penelitian mahasiswa–mahasiswa ITB yang meninjau perubahan kualitas Sungai Cikapundung. Dari hasil penelitian mereka, didapatkan bahwa kadar garam dan nilai oksigen terlarut di Sungai Cikapundung meningkat pada menjelang akhir pekan dan cenderung menurun pada hari–hari lainnya.

Erwin menjelaskan hipotesisnya bahwa hal tersebut diakibatkan karena aktivitas manusia di akhir pekan terutama yang berhubungan dengan pariwisata.

Atas persoalan tersebut, Erwin mengatakan solusi untuk mengurangi dampak pencemaran dari hasil kegiatan rumah tangga.

Erwin berpendapat bahwa pemasangan grease atau fat trap pada rumah–rumah warga merupakan salah satu cara yang efektif. Alat ini digunakan untuk menyaring hasil kegiatan rumah tangga sebelum disalurkan ke selokan.

Alat ini juga bisa digunakan untuk skala yang lebih besar, yaitu untuk 3–5 rumah. Akan tetapi, menurut Erwin, alat ini perlu pengembangan agar dapat dipasang secara mudah dan mandiri oleh tiap warga.

Exit mobile version