Darilaut – Selama lima hari, dari tanggal 9 hingga 13 Juni, para pemimpin dunia, ilmuwan, aktivis, dan eksekutif bisnis menghadiri pertemuan tingkat tinggi Konferensi Kelautan Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-3 (UNOC3).
Melalui pertemuan ini diharapkan dapat mengatasi krisis yang terus meningkat di lautan dunia. Diperkirakan 60 persen ekosistem laut dunia telah terdegradasi atau digunakan secara tidak berkelanjutan.
Ratusan janji baru akan dibangun berdasarkan lebih dari 2.000 komitmen sukarela yang dibuat sejak pertemuan puncak kelautan pertama pada tahun 2017.
UNOC3 (Third United Nations Ocean Conference akan membahas pertanyaan besar: bagaimana cara menghentikan penangkapan ikan ilegal, mengurangi polusi plastik, dan meningkatkan skala ekonomi biru yang berkelanjutan.
Tema UNOC3, mempercepat aksi dan memobilisasi semua pelaku untuk melestarikan dan memanfaatkan laut secara berkelanjutan, mencerminkan pergeseran dari deklarasi ke pelaksanaan.
Rencana Aksi Kelautan Nice akan diselaraskan dengan Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, sebuah perjanjian tahun 2022 yang menyerukan perlindungan setidaknya 30 persen ekosistem laut dan darat pada tahun 2030.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua, mengatakan, bersamaan dengan janji-janji baru, rencana tersebut akan mencakup deklarasi formal, sebagai dokumen politik yang ringkas dan berorientasi pada aksi.
“Rancangan deklarasi politik, yang dipimpin oleh Australia dan Cabo Verde, berfokus pada konservasi laut dan ekonomi berbasis laut yang berkelanjutan serta mencakup langkah-langkah konkret untuk mempercepat tindakan,” kata Li Junhua, seperti dilansir UN News.
Sebagai tanggapan, pertemuan puncak tersebut berupaya untuk meningkatkan pembiayaan bagi ekonomi biru dan mengangkat solusi yang dipimpin oleh masyarakat.
Di negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang, laut bukan sekadar mesin ekonomi, tetapi juga jalur kehidupan.
Satu dekade setelah Perjanjian Paris yang menetapkan target untuk membatasi pemanasan global, UNOC3 mendorong untuk menempatkan laut di pusat aksi iklim — bukan sebagai renungan, tetapi sebagai medan perang garis depan.
“UNOC3 membahas krisis yang saling terkait yang dihadapi lautan kita,” kata Li.
Pertemuan puncak tersebut juga bertujuan untuk bersifat inklusif, menyoroti suara-suara yang sering dikesampingkan di forum-forum global, seperti perempuan, masyarakat adat, nelayan, dan masyarakat pesisir.
“Kelompok-kelompok ini adalah yang pertama menderita dampak perubahan iklim dan degradasi laut,” ujarnya.
“Tetapi mereka juga pemimpin dan pemecah masalah, jadi mereka harus diberdayakan.”
Momen Penting
Nice bukan sekadar latar belakang yang indah — itu bagian dari cerita. Mediterania menghangat 20 persen lebih cepat dari rata-rata global, menjadikannya apa yang disebut sebagai “titik panas” iklim. Bagi banyak orang, lokasinya hanya mempertajam taruhannya.
Apakah konferensi tersebut menghasilkan momentum nyata atau sekadar lebih banyak deklarasi akan bergantung pada apa yang dibawa oleh negara, perusahaan, dan komunitas.
Saat para delegasi turun di pantai Nice yang bermandikan sinar matahari, laut menghantam pantai dengan lembut.
Namun, pertanyaan yang muncul seiring pasang surutnya air laut sama sekali tidak lembut: apakah dunia masih dapat membalikkan keadaan ini?
Lebih dari 3 miliar orang bergantung pada keanekaragaman hayati laut untuk bertahan hidup.
Pertemuan ini diadakan saat terumbu karang memutih (coral reefs bleach), populasi ikan menyusut, dan suhu laut memecahkan rekor.
Kedatangan mereka menuju French Riviera yang terletak di selatan Prancis, bukan untuk bersantai, akan tetapi ini salah satu pertemuan diplomatik paling mendesak.
“Lautan menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perubahan iklim, polusi plastik, hilangnya ekosistem, dan penggunaan sumber daya laut yang berlebihan,” kata Li.
