Dosen di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB Univeristy Dr Abdul Haris Mustari, mengatakan awalnya secara taksonomi hanya dikenal satu spesies babirusa, dengan nama ilmiah Babyrousa babyrussa.
Babirusa ini terdiri dari tiga sub spesies yaitu Babyrousa babyrussa celebensis di Sulawesi daratan, Babyrousa babyrussa togeanensis di Kepulauan Togean dan Babyrousa babyrussa babyrussa di Pulau Buru dan Kepulaun Sula.
Terdapat pula sub spesies babirusa yang sudah punah, yang hanya ditemukan dalam bentuk fosil yaitu Babyrousa babyrussa bolabatuensis. Babirusa ini fosilnya ditemukan di situs Bolabatue, Sulawesi Selatan. Karena itu, nama spesiesnya bolabatuensis.
Taring Babirusa
Babirusa lebih mudah dikenali dengan taringnya yang panjang dan melengkung ke atas. Tubuhnya kompak berotot dengan kaki pendek dan ekor yang kecil.
Sementara bulunya berwarna coklat tua atau hitam, terkadang ditemukan bintik-bintik putih atau coklat muda. Terdapat perbedaan postur tubuh antara betina dan jantan. Umumnya jantan lebih besar dari betina. Panjang tubuh sekitar 100-180 cm dan berat 40-160 kg.
Umumnya taring jantan dan betina berbeda. Taring jantan babirusa tumbuh menembus moncongnya, sedangkan taring betina tumbuh ke atas dan kedalam tengkorak.




