Darilaut – Banyak negara mengalami kekurangan air dan membutuhkan sumber daya air tawar. Di beberapa negara, kebutuhan air tawar melalui proses desalinasi, salah satunya di Arab Saudi.
Proses membuat air tawar dari air asin yang disebut desalinasi tersebut, dalam beberapa tahun terakhir, mulai diterapkan di banyak negara.
Desalinasi, yaitu proses menghilangkan garam dari air asin (laut) dan menyaringnya untuk menghasilkan air minum.
Hasil penelitian PBB pada tahun 2018, terdapat 15.906 pabrik desalinasi yang beroperasi dan memproduksi sekitar 95 juta meter kubik air desalinasi setiap harinya untuk digunakan manusia.
Sebanyak 48 persen diproduksi di Asia Barat dan Afrika Utara. Beberapa negara, seperti Bahama, Maladewa, dan Malta, memenuhi semua kebutuhan air mereka melalui desalinasi, sedangkan sebagian dari air minum di Arab Saudi berasal dari desalinasi.
Saat ini, mengutip dari Unep.org. sebanyak 2,4 miliar orang saat ini tinggal di negara-negara yang kekurangan air. Banyak negara yang mengalami kekurangan air dan membutuhkan sumber daya air tawar.
“Kelangkaan air telah menjadi isu penting bagi semakin banyak negara, khususnya di negara-negara Selatan,” kata Kepala Cabang Kelautan dan Air Tawar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Leticia Carvalho.
Karena itu, ketergantungan global terhadap desalinasi diperkirakan akan tumbuh pesat di tahun-tahun mendatang.
Namun, desalinasi memerlukan investasi besar dalam infrastruktur perpipaan dan pemompaan, sementara bahan bakar fosil yang biasanya digunakan dalam proses desalinasi yang boros energi berkontribusi terhadap pemanasan global.
Hasil desalinasi air garam beracun juga mencemari ekosistem pesisir.
Secara historis, sebagian besar air bersih untuk minum dan sanitasi berasal dari akuifer air tanah. Namun banyak yang mengalami kekeringan karena penggunaan berlebihan, musim kemarau yang lebih panjang, dan kekeringan.
Hal ini merupakan faktor risiko yang lebih tinggi bagi negara-negara kepulauan kecil yang sedang berkembang di mana air tawar semakin terancam oleh salinitas seiring naiknya permukaan air laut dan tenggelamnya lahan yang mengalami degradasi.
Dalam upaya untuk mendapatkan air, banyak negara beralih ke sumber air yang tidak konvensional.
Di beberapa daerah pedesaan, termasuk di Chile dan Peru, masyarakat mengumpulkan air yang tersuspensi di udara. Beberapa dari sistem ini menggunakan jaring halus untuk menjebak tetesan kecil kabut dan menyedotnya ke dalam reservoir.
Banyak komunitas juga memandang air limbah sebagai jawaban potensial terhadap kekurangan air.
Laporan UNEP tahun 2023 menemukan bahwa negara ini dapat memasok lebih dari 10 kali lipat air yang disediakan oleh pabrik desalinasi dunia saat ini.
Air limbah juga merupakan sumber energi, nutrisi, dan bahan-bahan lain yang dapat diperoleh kembali, namun hanya 58 persen air limbah rumah tangga yang diolah dengan aman secara global.
Air limbah seringkali tidak digunakan kembali karena kekhawatiran akan penularan, mikroplastik, dan obat antimikroba. Namun para ahli mengatakan dengan kebijakan dan teknologi yang tepat, air limbah dapat dimanfaatkan kembali dengan aman.
Dalam upaya untuk mendapatkan lebih banyak air, banyak negara juga berupaya memanfaatkan atmosfer yang diperkirakan mengandung 13.000 kilometer kubik uap air. Semakin banyak negara yang bereksperimen dengan penyemaian awan, suatu teknik di mana awan ditaburkan dengan perak iodida untuk menghasilkan hujan atau salju.
Negara-negara mulai dari Australia hingga Afrika Selatan telah berinvestasi dalam teknologi ini, dan Tiongkok memiliki salah satu program paling ambisius di dunia.
Namun, para ahli mengatakan, pagar pembatas perlu dibuat untuk menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan, seperti kekeringan di wilayah lain.
Peluang dan Hambatan
Ketika banyak negara mencari sumber air bersih baru, para ahli mengatakan masyarakat juga perlu mengelola air yang mereka miliki dengan lebih baik.
Dalam hal ini, peluang terbesarnya adalah mengurangi kehilangan air dalam sistem pertanian, misalnya dengan berinvestasi pada irigasi tetes, seperti yang sudah dijalankan di Jamaika.
Para ahli juga mengatakan kota-kota, yang merupakan rumah bagi lebih dari separuh penduduk dunia, harus melakukan upaya yang lebih baik dalam membendung kehilangan air, termasuk dari pipa yang bocor.
Di Amerika Serikat, misalnya, lebih dari 3,7 triliun liter air hilang setiap tahunnya akibat kerusakan pipa rumah tangga.
“Menggunakan sumber daya air yang ada dengan lebih efisien, dan juga memanfaatkan sumber air non-konvensional mempunyai potensi besar untuk meningkatkan kehidupan dan penghidupan,” kata Carvalho.
Para pembuat kebijakan di negara-negara yang mengalami kelangkaan air perlu “memikirkan ulang secara radikal” kebijakan perencanaan air mereka dengan menambahkan sumber-sumber air yang tidak konvensional ke dalam kebijakan tersebut.
“Agar hal ini dapat terwujud dengan cepat, dukungan finansial internasional dan ilmu pengetahuan untuk memandu keberlanjutan berbagai pendekatan sangat dibutuhkan,” katanya.
