“Yang paling penting dalam smart city adalah seberapa besar tingkat kenyamanan penduduk, seberapa besar penduduk merasa terlayani dengan baik, serta apakah benar-benar pemerintahan memberikan respons yang diharapkan oleh masyarakat,” ujarnya.
Kepala Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas (PIKKC) ITB, Prof Dr Suhono H. Supangkat, saat pembukaan RDTI dan RKCI Tahun 2021, mengatakan, sebelum Covid-19 tersebar ke seluruh Indonesia, kita dihadapkan pada permasalahan urbanisasi besar-besaran.
Menurut Prof. Suhono data tersebut menunjukkan setidaknya 70 persen penduduk Indonesia tinggal di perkotaan.
“Selama 6 tahun diselenggarakannya RKCI, belum ada kota di Indonesia yang memenuhi kriteria cerdas,” ujar Prof Suhono, seperti dikutip dari Itb.ac.id.
Fakta tersebut amat disayangkan karena di abad ini perkembangan dari berbagai sektor sedang gencar-gencarnya bertransformasi. Untuk itu, sebagai langkah awal merespons hal tersebut Indonesia perlu juga menggencarkan kemajuan digitalisasi secara komprehensif.
Peningkatan perhatian transformasi menuju kota cerdas (smart city) tahun ini dilakukan dengan adanya transformasi budaya.
Sebagai institusi berlatar belakang teknologi, ITB turut berperan penting dalam perwujudan salah satu mimpi besar Indonesia Emas 2045 ini.





Komentar tentang post