Menurut Syamsul, komunitas nelayan di Indonesia, khususnya suku Bugis, Mandar, dan Bajo, merupakan kelompok masyarakat pesisir yang tidak hanya mengandalkan laut sebagai sumber penghidupan.
Masing-masing komunitas memiliki karakteristik, alat tangkap, dan tradisi yang khas. Hal itu mencerminkan adaptasi mereka terhadap lingkungan laut sekaligus mempertahankan nilai-nilai warisan leluhur.
Nelayan Bugis memiliki pola aktivitas yang sangat tergantung pada kondisi laut dan musim ikan.
Biasanya, kata Syamsul, mereka berangkat melaut mulai dini hari hingga pukul 5 pagi. Pada siang hari, perahu akan parkir dengan kemungkinan hanya satu orang yang berjaga. Ketika sore tiba, nelayan kembali melaut dan jaring pun diturunkan kembali.




