Senin, Oktober 26, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Miliaran Orang Terganggu Kehidupannya Akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

redaksi
26 Oktober 2026
Kategori : Berita
0
Miliaran Orang Terganggu Kehidupannya Akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Selama beberapa dekade terakhir, populasi gorila gunung di Taman Nasional Bwindi Impenetrable di Uganda telah meningkat secara stabil hingga mencapai lebih dari 400 ekor. FOTO: UNEP/UN News

Tujuan dari Konvensi ini mencakup penanganan faktor-faktor utama penyebab hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk perubahan cara penggunaan lahan dan laut, eksploitasi spesies yang tidak berkelanjutan, perubahan iklim, polusi, serta spesies invasif.

Salah satu ambisi yang paling dikenal dari kerangka kerja Kunming-Montreal adalah “30 by 30” (30 untuk 30): melestarikan 30 persen lahan dan laut pada tahun 2030, yang juga merupakan tenggat waktu untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.

Untuk mewujudkannya, rencana aksi nasional harus selaras dengan tujuan internasional, pendanaan harus disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, serta pola konsumsi dan produksi harus disesuaikan dengan sumber daya planet kita yang terbatas, kata Schomaker.

Mengapa perundingan ini penting? Salah satu tujuan utama perundingan di Yerevan—yang juga dikenal sebagai COP17, atau Konferensi Para Pihak ke-17—adalah “mengubah komitmen menjadi kemajuan yang terukur di lapangan,” kata Wakil Tetap Armenia untuk PBB, Paruyr Hovhannisyan.

“Kami ingin COP17 mengirimkan sinyal politik yang jelas bahwa penanganan hilangnya keanekaragaman hayati memerlukan tindakan terkoordinasi dari pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, dan masyarakat sipil,” ujarnya kepada UN News.

Halaman 2 dari 4
Sebelumnya1234Selanjutnya
Tags: António GuterresCOP17keanekaragaman hayatiPBB
BagikanTweetKirimKirim
Previous Post

Badai Tropis In-fa Menguat Menjadi Topan di Samudra Pasifik Barat

Postingan Terkait

Badai Tropis In-fa Menguat Menjadi Topan di Samudra Pasifik Barat

Badai Tropis In-fa Menguat Menjadi Topan di Samudra Pasifik Barat

26 Oktober 2026
Badai Tropis In-fa Terbentuk di Dekat Kepulauan Marshall

Badai Tropis In-fa Terbentuk di Dekat Kepulauan Marshall

25 Oktober 2026

6 Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar di Dunia, Salah satunya Indonesia

Pemanasan Global Melampaui Perjanjian Paris

Dosen UNG Wakili Indonesia dalam Program Marikultur di Cina

Mahasiswa Asal Aljazair Bergabung di Prodi Sistem Informasi UNG

Topan Champi Terus Melemah di Laut Cina Timur

Mengindari Lonjakan Suhu dan Meminimalkan Dampak Perubahan Iklim

TERBARU

Miliaran Orang Terganggu Kehidupannya Akibat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Badai Tropis In-fa Menguat Menjadi Topan di Samudra Pasifik Barat

Badai Tropis In-fa Terbentuk di Dekat Kepulauan Marshall

6 Penghasil Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar di Dunia, Salah satunya Indonesia

Pemanasan Global Melampaui Perjanjian Paris

Dosen UNG Wakili Indonesia dalam Program Marikultur di Cina

AmsiNews

REKOMENDASI

Manfaat Minyak Kayu Putih yang Berpotensi Mencegah Virus Corona

Waspada Hujan Selama Libur Imlek dan Awal Bulan Ramadan

AMSI: Gugatan Menteri Pertanian terhadap Tempo Ancam Kebebasan Pers

200 Personel Brimob dan Tim Mabes Polri Tiba di Pohuwato

Forum Air Dunia Berlangsung di Tengah Banjir dan Kekeringan

Permukaan Air di Laut Kaspia Turun 2 Meter

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.