Tujuan dari Konvensi ini mencakup penanganan faktor-faktor utama penyebab hilangnya keanekaragaman hayati, termasuk perubahan cara penggunaan lahan dan laut, eksploitasi spesies yang tidak berkelanjutan, perubahan iklim, polusi, serta spesies invasif.
Salah satu ambisi yang paling dikenal dari kerangka kerja Kunming-Montreal adalah “30 by 30” (30 untuk 30): melestarikan 30 persen lahan dan laut pada tahun 2030, yang juga merupakan tenggat waktu untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.
Untuk mewujudkannya, rencana aksi nasional harus selaras dengan tujuan internasional, pendanaan harus disesuaikan dengan kebutuhan saat ini, serta pola konsumsi dan produksi harus disesuaikan dengan sumber daya planet kita yang terbatas, kata Schomaker.
Mengapa perundingan ini penting? Salah satu tujuan utama perundingan di Yerevan—yang juga dikenal sebagai COP17, atau Konferensi Para Pihak ke-17—adalah “mengubah komitmen menjadi kemajuan yang terukur di lapangan,” kata Wakil Tetap Armenia untuk PBB, Paruyr Hovhannisyan.
“Kami ingin COP17 mengirimkan sinyal politik yang jelas bahwa penanganan hilangnya keanekaragaman hayati memerlukan tindakan terkoordinasi dari pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, dan masyarakat sipil,” ujarnya kepada UN News.



