Izin eksplorasi di Pagoeat, masa pemerintahan Hindia Belanda juga diberikan kepada H. Ch. Soeters, H. Kerbert, Erdmann & Sielcken, Ch. H. Ch. Byvanck dan B.S.E. Roskott.
Emas dudangata berada di aliran yang membentuk Sungai Botudulanga, yang berada di Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia.
Aliran sungai ini bertemu dan menyatu dengan Sungai Taluduyunu – menuju ke muara dengan sebutan Sungai Marisa.
Emas dudangata berada di Langge, nama lokasi penggalian dan pendulangan emas. Lokasi ini ditandai cahaya berkilauan yang memantul di sungai.
Untuk ke tempat ini, dulunya, dapat ditempuh dengan berjalan kaki separuh hari dari Marisa dan Buntulia.
Kilau emas di dasar sungai yang terletak di Langge tersebut mendapat julukan “tilolio lo hulawa,” kata Subroto Pakaya, 56 tahun, penambang emas yang mewarisi keahlian menambang emas dari ayah dan kakeknya.
Emas dudangata konon berhubungan dengan raja emas yang juga berada di Pohuwato. Sebutan lain menuju tempat ini dalam bahasa Gorontalo disebut “tauwa lio” atau bila ke lokasi tersebut disebut “monao de tauwa lio”.
Di langge, kata Subroto, ”hilalahe hulawa” (emas kekuning-kuningan).
Subroto mengingat di masa kanak-kanak, pernah mencari ikan dengan cara memanah di aliran sungai itu.
Pada siang hari kilau emas atau cahaya memantul di Langge terlihat lebih jelas.




