Selain Misool, “pendataan hasil tangkapan ini sudah mulai dilakukan di Kawasan Konservasi Area V Kofiau – Boo dengan melibatkan 15 orang nelayan mitra,” kata Syafri.
Pendataan perikanan menggunakan metode CODRS, dengan melibatkan nelayan secara langsung dalam melakukan pengambilan data telah dikembangkan oleh YKAN sejak 2014.
Manajer Senior Perikanan Berkelanjutan YKAN, Glaudy Perdanahardja, menjelaskan, kegiatan penerapan CODRS merupakan upaya untuk mengatasi salah satu tantangan pengelolaan perikanan di Indonesia, yaitu minimnya data perikanan.
Selain bertujuan memperoleh data yang akurat, keterlibatan langsung nelayan dalam upaya pengelolaan perikanan dapat memberikan pemahaman lebih mengenai pentingnya menjaga kelestarian sumber daya perikanan dan habitatnya, kata Glaudy.
Di Kabupaten Raja Ampat, termasuk Misool dan Kofiau masyarakat masih menjunjung tinggi tradisi sasi. Kini dengan dukungan CODRS, sistem adat itu dipadukan dengan analisis ilmiah. Data tangkapan menjadi bukti empiris yang memperkuat keputusan adat, sementara aturan adat memberi legitimasi sosial yang membuat nelayan lebih patuh. Ketika dipadukan, harmoni akan terjadi, keberlanjutan akan menjadi keniscayaan. Sains, tradisi, dan masyarakat berjalan beriringan menjaga masa depan laut Indonesia.




