Nelayan Sumba Jadi Garda Depan Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan di Laut Sawu

Metode Crew Operating Data Recording System (CODRS) secara aktif melibatkan nelayan dalam melakukan proses pendataan perikanan. Nelayan dilatih untuk mengambil foto seluruh hasil tangkapan ikan di atas papan ukur. Data yang diperoleh digunakan untuk mendukung kebijakan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. FOTO: Nugroho Arif Prabowo/YKAN

Darilaut Upaya menjaga keberlanjutan laut Indonesia terus diperkuat melalui sinergi antara sains, kebijakan, dan kearifan lokal. Di Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang berkolaborasi menerapkan model pengelolaan perikanan berbasis sains yang melibatkan langsung nelayan sebagai pengumpul data dan penjaga sumber daya laut.

Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola perikanan kakap-kerapu di Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Dua pendekatan utama yang diterapkan adalah Crew Operated Data Recording System (CODRS) dan Territorial Use Rights for Fishing(TURF) reserve, yang dirancang untuk memastikan pengelolaan perikanan berjalan adaptif, transparan, dan berbasis bukti ilmiah.

“Pengelolaan perikanan tidak bisa hanya bergantung pada regulasi. Keterlibatan nelayan sebagai pengelola sumber daya adalah kunci keberhasilan,” ujar Imam Fauzi, Kepala BKKPN Kupang. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, nelayan, dan mitra konservasi seperti YKAN untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekologi dan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Melalui CODRS, nelayan dilatih untuk mendokumentasikan hasil tangkapan menggunakan kamera sederhana. Data berupa foto ikan, ukuran, dan lokasi tangkap ini kemudian dianalisis oleh tim teknis YKAN untuk menilai kondisi stok ikan. Informasi tersebut menjadi dasar bagi kebijakan pengelolaan yang lebih akurat, termasuk penentuan area perlindungan dan penyesuaian musim tangkap.

Tahapan berikutnya adalah penerapan TURF reserve, yang memberikan hak kelola wilayah tangkap kepada kelompok nelayan. Dengan sistem ini, nelayan memiliki kepastian akses sekaligus tanggung jawab menjaga kelestarian wilayah perairan mereka.

“Pendekatan ini menumbuhkan rasa kepemilikan. Nelayan bukan hanya pengguna laut, tapi juga pelindungnya,” kata Glaudy Perdanahardja, Fisheries Conservation Strategic Lead YKAN.

Menurut Muhammad Ilman, Direktur Program Kelautan YKAN, kolaborasi di Laut Sawu membuktikan bahwa sains, kebijakan, dan kearifan lokal dapat berjalan seiring.

“Menjaga laut berarti menjaga kehidupan. Ketika nelayan diberdayakan dan data menjadi dasar kebijakan, kita tidak hanya melindungi terumbu karang, tapi juga masa depan ekonomi pesisir”.

Dengan pendekatan berbasis data dan tanggung jawab bersama, Laut Sawu kini menjadi contoh nyata pengelolaan perikanan berkelanjutan yang tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir Sumba. (Novita J. Kiraman)

Exit mobile version