Subsektor perkebunan rakyat mencatat kenaikan tipis 0,88 persen, sementara peternakan justru mengalami penurunan 1,45 persen. Pada subsektor peternakan, turunnya indeks harga ternak besar, terutama sapi potong, menjadi penyebab utama merosotnya nilai tukar.
Indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik 0,01 persen. Kenaikan Ib terjadi pada beberapa subsektor seperti hortikultura, perkebunan rakyat, dan peternakan. Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) komponen utama dalam Ib pun ikut mengalami kenaikan 0,30 persen, dengan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang tertinggi, yaitu 0,48 persen.
Kondisi ini menandakan bahwa meskipun biaya produksi relatif stabil, kebutuhan konsumsi rumah tangga petani terus mengalami kenaikan, sehingga turut menekan daya beli petani di perdesaan.
Dari 14 provinsi di wilayah timur Indonesia, hanya lima provinsi yang mengalami kenaikan NTP pada November 2025. Provinsi dengan kenaikan tertinggi adalah Papua Selatan yang tumbuh 0,85 persen.
Gorontalo berada di kelompok provinsi yang mengalami penurunan, dengan persentase penurunan 1,34 persen, lebih dalam dibanding NTP nasional yang turun 0,23 persen. Provinsi dengan penurunan terdalam adalah Papua Barat Daya yang turun 3,12 persen.




