Darilaut – Ocean Eye sebuah aplikasi teknologi keuangan (fintech) inovatif mulai diterapkan di Morotai, Maluku Utara.
Aplikasi Ocean Eye ini dapat digunakan oleh industri pariwisata bahari, khususnya operator selam dan wisatawan, untuk melaporkan keberadaan spesies karismatik di area Kawasan Konservasi Perairan (KKP) serta kawasan serupa lainnya.
“Kawasan Konservasi Perairan akan mendapat banyak manfaat dari penerapan Ocean Eye,” kata Chief of Party Proyek USAID SEA, Alan White, Senin (5/10).
Dengan adanya KKP yang baru dibentuk di Morotai pada tahun 2020 ini, Ocean Eye ingin memberdayakan dan menyediakan insentif kepada masyarakat sekitar dan operator pariwisata untuk mendukung upaya konservasi jangka panjang di daerah tersebut.
KKP Rao-Tanjung Dehegila yang baru dibentuk di Morotai merupakan salah satu kawasan konservasi yang didukung pengembangannya oleh Proyek USAID SEA (2016-2021), bekerja sama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam merencanakan lokasi dan zona, melakukan survei dasar dan membantu pembuatan rencana pengelolaan KKP.
Melalui aplikasi Ocean Eye, informasi dari keberadaan spesies karismatik ini akan menjadi dasar dalam menentukan jumlah donasi kecil untuk masyarakat sebagai kontribusi dari wisatawan yang berwisata ke daerah pesisir untuk mendorong perlindungan biota.
Dana ini dapat menjadi pendapatan alternatif dari ekstraksi sumberdaya laut secara langsung, aplikasi ini memungkinkan masyarakat untuk menerima sumber pendapatan dari upaya konservasi.
Prototipe pertama Ocean Eye dapat digunakan dan diuji coba di lapangan pada triwulan akhir 2020 di Morotai. Morotai adalah salah satu pulau terluar di Indonesia yang terkenal dengan lokasi menyelam bersama hiu.
Terdapat tiga operator selam di Morotai yaitu Shark Diving Indonesia, Dive Morotai dan GOMO yang telah setuju untuk menggunakan dan mencoba aplikasi Ocean Eye.
Selain itu, ada tiga komunitas masyarakat lokal yang berada di pulau-pulau kecil di tengah KKP dengan keanekaragaman hayati ini, akan menjadi penerima dana jasa ekosistem yang dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung.
Berdasarkan pemodelan dan proyeksi yang dilakukan, serta data pengamatan yang dikumpulkan selama survei daya dukung pada tahun 2019, dana pembayaran dari pertemuan dengan spesies yang diharapkan ini akan memberikan pendapatan ke masyarakat mencapai US $400.000 pada Tahun ke-6.
Pada basis harian per penyelam, dana yang dikumpulkan diproyeksikan lebih dari dua kali lipat pada periode berbeda, dari US $4,50 di tahun pertama menjadi US $10,20 di tahun ke-6, mencerminkan peningkatan pertemuan dengan populasi spesies yang pulih dan lebih banyak wisatawan yang mengunjungi Morotai.
“Ocean Eye akan merevolusi cara masyarakat pesisir mendapatkan insentif untuk mendukung konservasi laut jangka panjang dan membantu mendukung pemulihan spesies penting seperti hiu, pari, penyu, dan spesies lain yang ingin dilihat oleh wisatawan”, kata Ketua Tim Penggerak PKK Pulau Morotai, Sherly Tjoanda.
Berikut ini ringkasan rencana penggunaan dana yang akan diterima oleh masyarakat dari dana jasa ekosistem melalui Ocean Eye:
• Desa Ngele-Ngele berencana untuk menjalankan program konservasi seperti restorasi terumbu karang dan melakukan kegiatan pendidikan dan edukasi peduli lingkungan di sekolah setempat.
• Desa Galo-Galo berencana untuk mendukung kelompok usaha wanita dalam meningkatkan keterampilan, pemasaran dan produksi.
• Desa Kolorai berencana untuk melakukan pemantauan rutin di Kawasan Konservasi Perairan untuk menjaga wisata bahari tetap lestari dalam upaya mendukung upaya konservasi dan mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Kolorai seperti penguatan POKDARWIS.
Meskipun di masa pandemi, Morotai tetap menerima beberapa turis penyelam domestik saat ini yang memungkinkan pengumpulan data frekuensi pengamatan berbagai hewan serta menetapkan harga ideal per penglihatan per spesies.
Penyaluran dana untuk masyarakat akan menggunakan uang tunai untuk saat ini, tetapi pada percobaan ini, akan pula mengidentifikasi mekanisme transfer digital berbiaya rendah yang paling sesuai untuk daerah tersebut.
Setelah uji coba pada triwulan akhir 2020, Ocean Eye akan siap untuk meningkatkan skala global dan membantu mengarahkan upaya konservasi di dunia pariwisata pascapandemi.
“Pandemi telah menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa masyarakat tidak memiliki insentif jangka panjang untuk konservasi, di banyak daerah perburuan satwa liar telah marak terjadi. Ocean Eye kini dapat membantu memastikan bahwa dengan situasi pandemi, tidak harus mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati,” kata CEO Ocean Eye, Sari Tolvanen.*
