Darilaut – Akhir bulan Januari kasus infeksi virus Nipah (Henipavirus nipahense) yang dikonfirmasi laboratorium di Negara Bagian Benggala Barat, India, dilaporkan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Otoritas Kesehatan India melakukan pengujian laboratorium pendahuluan dan menunjukkan infeksi virus Nipah (NiV), dan konfirmasi diterima dari Institut Virologi Nasional, Pune, pada 13 Januari 2026.
Menurut WHO kasus-kasus tersebut dikonfirmasi melalui pengujian Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).
Kasus pertama, seorang perawat perempuan, dan kasus kedua adalah seorang perawat laki-laki. Keduanya berusia antara 20 – 30 tahun, dari Barasat, distrik North 24 Parganas.
Gejala kasus ini khas infeksi NiV berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2026.
Pada 21 Januari 2026, kasus kedua menunjukkan perbaikan klinis, sementara kasus pertama tetap dalam perawatan kritis.
Setelah dua kasus yang dikonfirmasi, otoritas kesehatan India mengidentifikasi dan menguji lebih dari 190 orang yang melakukan kontak. Termasuk petugas kesehatan dan perawatan serta kontak komunitas. Semua sampel dari orang yang melakukan kontak dinyatakan negatif untuk NiV.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional India mengumumkan pada tanggal 27 Januari bahwa tidak ada kasus terkonfirmasi baru yang terdeteksi di Benggala Barat sejak Desember 2025 hingga saat ini.
Wabah Virus Nipah ke-3 di Benggala Barat
Otoritas Kesehatan India mengatakan tidak ada kasus lebih lanjut yang terdeteksi hingga saat ini. Kejadian ini merupakan wabah infeksi NiV ketiga yang dilaporkan di Benggala Barat.
Sebelumnya, wabah virus Nipah dilaporkan di Siliguri pada tahun 2001 dan Nadia pada tahun 2007.
Pengawasan yang ditingkatkan dan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi (IPC) telah diterapkan sementara investigasi terhadap sumber paparan masih berlangsung.
Saat ini, belum ada obat atau vaksin berlisensi untuk infeksi penyakit NiV. Namun perawatan suportif dini dapat meningkatkan angka harapan hidup.
Epidemiologi
WHO mengatakan infeksi NiV adalah penyakit zoonosis yang ditularkan ke manusia melalui hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar), atau makanan yang terkontaminasi air liur, urin, dan kotoran hewan yang terinfeksi.
Penyakit ini juga dapat ditularkan langsung dari orang ke orang melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Kelelawar buah spesies Pteropus adalah inang alami virus ini.
Masa inkubasi berkisar antara 3 hingga 14 hari. Dalam beberapa kasus langka, masa inkubasi hingga 45 hari telah dilaporkan.
Diagnosis laboratorium pasien dengan riwayat klinis infeksi NiV dapat dilakukan selama fase akut dan pemulihan penyakit dengan menggunakan kombinasi tes.
Tes utama yang digunakan adalah RT-PCR dari cairan tubuh dan deteksi antibodi melalui ELISA.
Infeksi pada manusia berkisar dari infeksi tanpa gejala hingga infeksi pernapasan akut (ringan, berat), dan ensefalitis fatal (pembengkakan otak), kata WHO.
