Darilaut – Gunung api Ruang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, meletus, Selasa (30/4). Hingga Rabu (1/5) pagi, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-I.
Hasil pengamatan visual Julius Rampolii dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rabu pagi, asap kawah utama berwarna kelabu dengan intensitas tebal tinggi sekitar 500-700 meter dari puncak.
Pengamatan yang dilakukan Rabu pukul 00.00-06.00 cuaca berawan, angin lemah ke arah utara. Suhu udara sekitar 28-30°C.
Hingga pagi ini, terjadi 4 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 6-7 mm, dan lama gempa 5-10 detik, 2 kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 17-18 mm, S-P 1-1.5 detik dan lama gempa 10-16 detik.
Selain itu, 1 kali gempa Tektonik Lokal dengan amplitudo 12 mm, S-P 9 detik dan lama gempa 30 detik, dan 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 11 mm, S-P 25 detik dan lama gempa 55 detik.
Hingga pagi ini tingkat aktivitas Gunung Ruang Level IV (Awas).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan monitoring muka laut saat Gunung Ruang erupsi pada Selasa (30/4). Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan tindakan ini dilakukan secara intensif untuk upaya deteksi dini tsunami.
“Berdasarkan hasil monitoring muka laut yang telah dilakukan BMKG tampak kondisi muka laut di seluruh lokasi stasiun menunjukkan bahwa erupsi Gunung Ruang tidak mengakibatkan perubahan signifikan muka air laut,” kata Dwikorita, mengutip siaran pers BMKG.
Terdapat lima stasiun monitoring muka laut yang terus diamati oleh BMKG. Yaitu, Tide Gauge Siau, Pulau Siau, Tide Gauge Ngalipaeng, Kepulauan Sangihe, Tide Gauge Tahuna, Kepulauan Sangihe, Tide Gauge Petta, Kepulauan Sangihe, dan AWS Maritim BMKG Bitung.
Dalam operasionalnya, BMKG melakukan monitoring muka laut menggunakan peralatan Tide Gauge (TG) milik Badan Informasi Geospasial (BIG) dan Automatic Weather System (AWS) Maritim milik BMKG di lokasi terdekat dengan Gunung Ruang.
“Untuk itu sangat penting upaya BMKG dalam melakukan monitoring muka laut di sekitar Gunung Ruang saat erupsi menggunakan sistem InaTNT untuk upaya deteksi dini tsunami,” ujarnya.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan meskipun saat ini masih terpantau normal, seluruh pihak patut waspada dengan erupsi Gunung Ruang.
Hal ini karena Gunung Ruang memiliki catatan sejarah tsunami destruktif akibat erupsinya. Persitiwa tsunami ini terjadi pada tahun 1871 di mana ketinggian gelombang mencapai 25 meter dan mengakibatkan korban jiwa mencapai 400 orang.
“InaTNT merupakan sebuah sistem yang mengintegrasikan berbagai data observasi muka laut sekaligus dilengkapi algoritma detector yang mampu mendeteksi anomali muka laut yang merupakan fitur penting dalam deteksi dini tsunami,” kata Daryono.
Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, menjelaskan tinggi gelombang laut signifikan di sekitar Perairan Kepulauan Sitaro, Peraian Bitung-Likupang, Perairan Utara Sulut, hingga Laut Maluku masih dalam kategori rendah berkisar 0,5-1.25 meter. Secara umum angin dominan bertiup dari arah Timur Laut-Tenggara.
Keadaan ini, tambah Eko masih akan berlangsung hingga tiga hari ke depan. BMKG telah memasang Maritime Automatic Weather Station (MAWS) di sejak tahun 2022 di Pelabuhan Likupang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kepulauan Sitaro, di mana Gunung Ruang berada.
MAWS memantau secara real-time dan terus menerus terkait perkembangan cuaca dan parameter oseanografi seperti pasang surut dan salinitas.
