Para Pemimpin Muda Menyerukan Tindakan Nyata untuk Pembangunan Berkelanjutan

Suzuka Nakamura (kiri), Pemimpin Muda untuk SDG dari Jepang, dan Adelin Pierre, Pemimpin Muda untuk SDG dari Haiti, berbicara dalam acara SDG Moment 2026. FOTO: UN

Darilaut – Suzuka Nakamura dari Jepang dan Adelin Pierre dari Haiti —dua orang yang termasuk dalam kelompok Pemimpin Muda PBB untuk SDG (Sustainable Development Goal) — mendesak pemerintah untuk bertindak dengan tingkat urgensi yang sama seperti saat mereka menyepakati SDG 11 tahun yang lalu.

“Kepada para pemimpin di ruangan ini dan di seluruh dunia, Anda telah membuat janji ini,” ujar Nakamura. “Kami meminta Anda untuk menepatinya.”

Menjelang tenggat waktu agenda 2030 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, banyak yang belum sesuai jalur.

Pada tahun 2015, seluruh Negara Anggota PBB mengadopsi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, dengan berkomitmen pada 17 SDG yang berfokus pada isu-isu seperti pengentasan kemiskinan, pelestarian planet bumi, dan penciptaan perdamaian abadi.

Negara-negara anggota menetapkan target untuk mencapai tujuan-tujuan ini pada tahun 2030. Namun, laporan kemajuan terbaru PBB menunjukkan bahwa laju pencapaian tujuan-tujuan tersebut lambat dan tidak merata.

Dari 139 target yang memiliki data tren, hanya 36 persen yang berada di jalur yang tepat atau menunjukkan kemajuan moderat.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada hari Jumat (18/9) mengatakan bahwa perbaikan taraf hidup berkat pelaksanaan SDG membuktikan bahwa kerja sama multilateral dapat menghasilkan kemajuan nyata ketika pemerintah mengambil tindakan.

Ia menjelaskan bahwa upaya mencapai tujuan-tujuan tersebut telah membantu menurunkan angka kematian anak dan ibu, mencegah jutaan infeksi HIV baru, serta memperluas akses terhadap pendidikan, perlindungan sosial, energi terbarukan, dan berbagai layanan lainnya.

Namun, kemajuan yang dicapai menghadapi “hambatan besar” seperti konflik, melemahnya kerja sama internasional, krisis iklim, serangan terhadap hak-hak perempuan dan anak perempuan, serta kendala utang dan investasi, kata Guterres.

“Janji-janji yang dibuat pemerintah saat mengadopsi Tujuan-tujuan ini tidak ditepati,” ujar Guterres mengutip UN News.

“Sudah saatnya untuk menepati janji tersebut.”

Perdamaian Sebagai Prasyarat

Sekretaris Jenderal menekankan prioritas untuk memerangi ketimpangan, melindungi planet bumi, mendanai pembangunan berkelanjutan, serta memanfaatkan segala sarana dan teknologi yang ada guna mempercepat kemajuan.

Ia menyerukan peningkatan investasi di bidang pendidikan dan kesehatan, transisi yang adil menuju energi terbarukan, dukungan pendanaan dan utang yang lebih kuat bagi negara-negara berkembang, serta pemanfaatan teknologi secara lebih luas—seperti kecerdasan buatan yang “bertanggung jawab”.

Guterres menyatakan bahwa perdamaian merupakan landasan sekaligus faktor pendukung pembangunan berkelanjutan, seraya menegaskan perlunya upaya baru dari dunia internasional untuk mewujudkan perdamaian di mana pun.

Masih Ada Waktu

Dengan sisa waktu empat tahun menjelang tenggat waktu, para pembicara menekankan perlunya mengubah komitmen menjadi hasil nyata sembari menjangkau kelompok masyarakat yang paling tertinggal.

Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC), Amar Bendjama, mengatakan bahwa kemajuan dapat dicapai jika ambisi dibarengi dengan pelaksanaan nyata.

Bagi para pemimpin muda yang hadir dalam acara tersebut, tenggat waktu yang semakin dekat bukanlah alasan untuk meninggalkan tujuan-tujuan ini, melainkan alasan untuk bertindak dengan urgensi yang lebih tinggi.

“Masih ada waktu untuk bertindak, namun kita perlu bergerak bersama,” kata Nakamura. Kami tidak kehilangan harapan terhadap SDGs, dan Anda pun tidak boleh demikian.

Exit mobile version